TRIBUNNEWS.COM - Seperti kebanyakan pemain di Timnas
Indonesia U-19, Yabes pernah dicibir oleh teman-teman sepermainannya di
kampung halaman. Maklum saja, karena berasal dari keluarga sederhana,
Yabes kecil pernah kesulitan memenuhi kebutuhan sepatu.
"Ya jadi suka diejek-ejek. Tapi sekarang biasa saja. Saya anggap semunya berkawan," ujar Yabes.
Cara
nyentrik ini mengingatkan kita pada cara pesepak bola nasional era
1990-an, Rochi Putiray. Dia sengaja memakai sepatu berbeda tipe dan
warna dalam sebuah pertandingan. Bedanya, Rochi melakukan sebagai cara
berkreasi sedangkan Yabes karena tidak sanggup membeli.
"Dulu itu
saya pakai sepatu sebelah-sebelah. Karena yang satu masih bagus,
pasangan satunya sudah rusak. Sementara ada sepatu lain yang kualitasnya
masih baik. Ya jadi dipasang-pasangkan saja," ujar Yabes.
Yabes
menyadari, tekad kuat menjadi pesepak bola di bangun di tengah
keterbatasan. Namun, itu bukan halangan baginya untuk terus memelihara
mimpi menjadi pemain bintang.
“Saya hanya berlatih dengan
fasilitas dengan latihan seadanya. Dari rumah ke lapangan, harus
menempuh perjalanan 1 jam dan dua kali naik angkot. Saya berlatih juga
bukan di SSB, tapi juga di klub kampung.”
Kini, winger berusia 19 tahun itu mulai merasakan mimpinya dan menjelma menjadi bintang di Skuad Garuda Jaya.
Nama
Yabes Roni mulai dikenal publik secara luas di ajang Kualifikasi Piala
Asia U-19 grup G , pada Oktober 2013. Pertandingan melawan Filipina
menjadi titik balik perjuangan Yabes meretas mimpi sebagai pemain
profesional. Masuk sebagai pemain pengganti pada menit 68, Yabes
mencetak gol di laga debut tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar