Tampilkan postingan dengan label Guntur Cahyo Utomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guntur Cahyo Utomo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Timnas Indonesia U-19 Siap Mental Ke Piala Asia


 nine sport


Goal.com - Melalui pelatih mentalnya, Guntur Cahyo Utomo, Timnas Indonesia U-19 menegaskan bahwa mereka sudah siap secara mental untuk terbang ke Myanmar, guna berjuang habis-habisan di Piala Asia U-19.


Segala hal yang bisa mempengaruhi psikis penggawa tim Garuda Jaya juga sudah diantisipasi dengan matang, berdasar survei yang sudah dilakukan di negara tuan rumah. Guntur menyebut jika kondisi mental Evan Dimas cs kini berada pada level yang amat baik.

"Secara personal saya mendampingi mereka dan sekarang tinggal finishing saja mengkondisikan mereka untuk segera ke Jakarta dan bertolak ke Myanmar," papar Guntur pada Goal Indonesia.

"Perjalanan ke Myanmar (menggunakan pesawat) hanya 30 menit, kondisinya nyaris sama dengan di Indonesia. Cuaca sama, kemarin juga sudah ada yang survei, makanan juga sudah bisa dikondisikan. Tinggal pikiran mereka yang difokuskan ke sana."

Sang pelatih mental kemudian melanjutkan penjelasan pada kondisi mental timnas U-19 pasca kembali dari Spanyol, lewat hasil yang tak bisa disebut menggembirakan.

"Jika di Spanyol kemarin kasusnya berbeda karena yang kita lawan jelas levelnya jauh di atas. Secara mental para pemain masih merasa nyaman, mereka bisa belajar banyak dari tur Spanyol kemarin. Mereka sadar betul jika level mereka berbeda dengan Real Madrid B atau Barcelona B," lanjutnya.
"Wong Real Madrid aja kalah sama Barcelona 5-0 kok," pungkasnya sembari melepas canda.

Senin, 25 Agustus 2014

Pelatih Garansi Mental Pemain Timnas U-19 Tetap Terjaga

 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Liputan6.com, Yogyakarta - Tim nasional Indonesia U-19 menelan hasil buruk saat tampil di ajang Hassanal Bolkiah Trophy (HBT) 2014. Dalam lima pertandingan, Indonesia dipaksa menerima tiga kekalahan, satu kemenangan, dan satu hasil imbang.
Masyarakat tentunya sangat menyayangkan penampilan buruk yang diperlihatkan Evan Dimas dan kawan-kawan. Anggapan yang bermunculan mengatakan mental para pemain sudah hancur saat tersingkir di babak penyisihan grup HBT 2014.
Tapi anggapan tersebut dibantah pelatih mental Timnas U-19, Guntur Cahyo Utomo. Dia menilai hasil di HBT 2014 jadi pelajaran berarti untuk skuat Garuda Jaya.

"Harus digaris bawahi sebetulnya kami tidak gagal. Mereka hanya tidak mendapatkan hasil yang bagus. Dari evaluasi yang kami lakukan secara permainan mereka tidak ada persoalan," ucapnya saat ditemui di Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta, Senin (25/8/2014).

"Ini efek bagusnya, kami mendapatkan kondisi yang diinginkan untuk persiapan piala Asia. Jadi punya materi tentang diri mereka sendiri. Saat ini (para pemain) sedang dalam proses peningkatan dan pemulihan (mental). Jadi kami ingin membuat acara yang menyegarkan, refresh ulang pikiran di kepala mereka," tambahnya.

Menurut Guntur, hasil buruk di HBT 2014 disebabkan karena kejenuhan yang dialami para pemain. Namun ia beserta tim pelatih tidak sedikitpun meragukan kualitas skuat Garuda Jaya.

"Yakin dengan mereka (di Piala Asia). Kemarin di Brunei mungkin ada faktor itu (jenuh). Itu adalah evaluasi, itu pelajaran berharga agar efek negatif dari situasi itu tak lagi muncul. Namanya anak muda, dari rumah sudah pamitan ke Spanyol tapi jadinya di Brunei. Ada juga karena tur nusantara yang selalu pindah-pindah. Ada pengaruhnya dan itu diakui para pemain. Seperti kita sajalah, andaikan mau dapat hadiah tapi tidak jadi. Tentu ada kekecewaan dan kondisi itu tidak nyaman," jelasnya.

Saat ini Timnas U-19 sedang menjalani pemusatan di Yogyakarta. Mereka terus mempersiapkan diri jelang hadapi turnamen AFC Cup U-19, Oktober 2014 mendatang.

Senin, 18 Agustus 2014

Ini Rahasia Kemenangan Telak Timnas U-19 Atas Singapura U-21

foto jpnn.com

BANDAR SERI BEGAWAN - Timnas Indonesia U-19 menutup rangkaian pertandingannya di turnamen Hassanal Bolkiah Trophy (HBT) 2014 dengan kemenangan telak 6-0 atas Singapura U-21 di Hassanal Bolkiah National Stadium, Bandar Seri Begawan, Senin (18/8) sore.

Striker Dimas Drajat menjadi bintang lapangan dengan memborong empat gol. Dua gol lainnya diciptakan Ilham Udin Armaiyn dan Paulo Oktavianus Sitanggang.

Tim pelatih Indonesia U-19 menyambut baik kemenangan ini. Meski tidak membuat Evan Dimas Dkk melaju ke babak semifinal, namun kemenangan dengan setengah lusin gol itu mengangkat moral pemain.

"Alhamdulillah. Kemenangan ini penting untuk mengembalikan moral pemain,” kata Pelatih mental timnas U-19, Guntur Cahyo Utomo di official Twitter Timnas U-19, usai pertandingan.

Di empat laga sebelumnya, Indonesia U-19 hanya meraih sekali imbang dan tiga kekalahan secara beruntun. Namun di pertandingan ini, kata Guntur, anak asuhnya bermain lebih rileks dibanding pertandingan sebelumnya.

"Sebelum pertandingan, kami hanya bilang ke pemain untuk kembali menikmati main sepakbola dan gembira saat masuk lapangan," ungkap Guntur. (abu/jpnn)

Rabu, 30 Juli 2014

'Cuci Otak', Rahasia Kekuatan Mental Timnas U-19

ROL/Fian Firatmaja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Permainan Timnas Indonesia U-19 di turnamen Piala AFF dan kualifikasi Piala AFC yang lalu sungguh luar biasa. Mental bermain Evan Dimas dkk terlihat sangat kuat meski melawan musuh yang memiliki postur rata-rata lebih besar dari Indonesia. Ternyata, salah satu rahasia kuatnya mental Timnas U-19 adalah adanya 'pencucian otak' oleh para staf pelatih.
"Kami memberikan penekanan khusus tentang bagaimana mereka harus bermain. Artinya hal ini tentang kemampuan berpikir mereka. Otak memiliki peranan penting dalam proses ini," kata pelatih menta Timnas U-19, Guntur Cahyo Utomo, kepada ROL akhir pekan lalu di Jakarta.

"Bisa dikatakan kita melakukan brain washing. Kami tekankan semua karena sepak bola. Makan karena sepak bola, mandi karena sepak bola, belajar karena sepak bola, nonton karena sepak bola. Hal ini agar mereka berpikir total tentang sepak bola," tambahnya.

Guntur menjelaskan, apabila jika para pemain telah berpikir semua adalah mengenai sepak bola, maka mereka bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

Akan tetapi di dalam pelaksanannya, lanjut Guntur, ada hambatan yang menjadi penghalang pelatihan mental punggawa tim Garuda Jaya, yaitu mental block. "Mereka (para pemain) menganggap dirinya tak mampu. Ada blocking-blocking di kepala mereka, yang menganggap diri mereka tidak mampu. Mereka menggangap diri mereka inferior," kata Guntur

Namun, berkat mental training dan pendekatan emosional yang diterapkan, tim pelatih Timnas U-19 akhirnya berhasil membentuk sedikit demi sedikit mental para pemain. Dampaknya, tersuguhlah sebuah permainan ciamik dari timnas U-19 di ajang Piala AFF dan kualifikasi Piala AFC.

Sabtu, 12 Juli 2014

Mereka di Balik Sukses Indra Sjafri dan Timnas U-19, Guntur Cahyo Utomo (Pelatih Mental)

 bola.net

Bola.net - Pelatih mental? Hmmm... Terlihat seperti jabatan yang mengada-ada. Namun, kalau melihat kesuksesan Garuda Jaya dengan mental juara dan pantang menyerahnya selama ini, jabatan itu sepertinya penting untuk sebuah klub.

Guntur Cahyo Utomo tak mengelak kalau ia mungkin menjadi pelatih mental pertama di Timnas atau bahkan di sebuah klub. Direkrutnya alumni S2 Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini oleh Indra Sjafri menurutnya karena pelatih mental sangat dibutuhkan oleh sebuah tim.

"Ya kalau saya pikir ini sangat perlu. Karena dalam sepak bola tiga aspek utamanya itu teknik, fisik dan terakhir mental," jelas pemegang lisensi kepelatihan C AFC ini.

Diskusi kecil dengan Indra Sjafri di Yogyakarta sekitar tahun 2011 membuat keduanya merasa satu visi. Sang pelatih menilai butuh seorang psikiater sepak bola untuk menyiapkan mental Ravi Murdianto dkk. "Kembali seperti yang saya sebutkan tadi, jabatan saya berdasarkan kebutuhan," tegasnya.

"Sering kita tahu pelatih dalam jumpa persnya setelah pertandingan mengeluh mental turun, kalah mental, tak punya mental juara dll. Faktanya itu hanya menjadi keluhan dan tidak ada tindak lanjutnya. Ya kalau saya dan coach Indra menginspirasi pelatih mental lain di Indonesia, malah Alhamdulillaah," urai Guntur.

Tempaan mental Guntur ternyata cukup berhasil. Laga penentuan melawan Korea Selatan (Korsel) kemarin hanyalah sekadar bukti kecil. Sebelumnya, laga penentuan dan sarat gengsi melawan Malaysia hingga laga final yang diteruskan adu penalti di Piala AFF lalu menjadi bukti-bukti lain senyuman hingga teriakan pemuda yang 19 September lalu tepat berusia 33 tahun ini.

Jadi, bagaimana klub-klub di Indonesia? Perlukah pelatih mental? 

Selasa, 01 Juli 2014

Timnas U-19 Undang Wasit, Butuh Diskusi Law Of The Game

JAKARTA – Sikap emosional pemain dan beberapa kali keributan yang tersaji saat Timnas U-19 ditahan imbang pra PON Jabar 1-1, Jumat (27/7) lalu langsung disikapi tim pelatih. Mereka ingin kembali mengundang wasit PSSI, untuk melakukan penyegaran terkait law of the game. Pelatih mental Timnas U-19 Guntur Cahyo Utomo membenarkan rencana untuk memberikan penjelasan kepada pemain soal aturan pertandingan memang ada. Namun, sejauh ini waktunya belum diputuskan oleh tim pelatih karena masih harus berdiskusi dengan Badan Tim Nasional (BTN). “Kami cari waktu yang longgar. Untuk menggelar diskusi wasit dengan pemain. Nanti akan diumumkan kapan waktunya,” kata Guntur. 

 Rifqi Fakhri/ Radar Bandung

 Penjelasan terkait law of the game, menurut pelatih asal Jogja itu, cukup penting, mengingat pemainnya saat ini mudah terpancing emosinya. “Kami memang pernah bicara soal law of the game awal-awal pemusatan latihan dulu. Sekarang kita ingin up date, agar anak-anak semakin tahu mana benturan mana pelanggaran, jadi tidak mudah terpancing,” ucapnya kemarin (30/6). 

Menurut Guntur, yang harus dimatangkan saat ini pemahaman terkait posisi dan kondisi yang disebut sebuah pelanggaran. Jangan sampai, lanjut dia, pemain merasa dirinya dilanggar oleh lawan, tapi dari kaca mata wasit, tindakan lawan tidak disebut pelanggaran. “Anak-anak harus paham betul, batas boleh dan tidak, melanggar atau tidak, untuk gerakan mereka di lapangan. Jangan sampai mereka kepancing, ngerasa dilanggar, ternyata menurut law of the game tidak pelanggaran,” terangnya. 

Dengan begitu, Guntur berharap pemain bisa lebih tenang dan tidak mudah terpancing. Karena menurut dia, lawan memang sering melakukan benturan keras, untuk menganggu pemain dan merusak permainan Timnas dengan menganggu konsentrasinya melalui emosi. Sebelumnya, wasit Hadiyana yang memimpin laga Timnas U-19 kontra Pra PON Jabar mengaku jika pihaknya memang diundang oleh tim kepelatihan U-19 untuk berdiskusi. “Wasit diundang oleh tim kepelatihan U-19 untuk berdiskusi masalah sikap para pemain U-19 yang terlihat emosional di beberapa petandingan termasuk pertandingan tadi malam. Diskusi itu nanti akan dilakukan di Malang,” tuturnya. (aam/jpnn)



Jumat, 23 Mei 2014

Indra Sjafri Keluhkan Emosi Pemain Timnas U-19


Bola.net - Indra Sjafri mengeluhkan sikap anak asuhnya yang belum bisa mengontrol emosi mereka. Terutama saat Timnas Indonesia U-19 kehilangan bola.

Menjamu Yaman di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (23/05), Maldini Pali dkk memang sukses menang 3-0. Namun tercatat mereka harus mendapatkan enam kartu kuning karena tekel keras buntut emosi karena kehilangan bola.

"Saya sudah peringatkan bahwa hal ini harus diubah. Mereka masih sama saja seperti lawan Myanmar lalu. Emosi tak terkontrol saat kehilangan bola," jelas Indra Sjafri dalam sesi jumpa pers usai pertandingan.

Indra mengakui hal seperti itu memang tergantung tipikal emosi dari sang pemain sendiri. Namun begitu, ia berharap anak asuhnya berkembang dan memperbaiki diri. Sehingga terlihat ada progress dan tim pelatih bisa mulai membenahi sisi lain dari kelemahan Timnas U-19.

"Saya masih yakin hal itu bisa dibenahi. Sekarang itu menjadi tugas kami, terutama coach Guntur (Cahyo Utomo, mental coach Timnas)," tambahnya. (fjr/dzi)

Kamis, 22 Mei 2014

Hadapi Yaman, "Garuda Jaya" Andalkan Teknik Umpan Pendek


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Menghadapi Tim Nasional (timnas) Yaman U-19, besok, Timnas Indonesia U-19 menerapkan strategi teknik umpan pendek atau dalam khazanah sepak bola dikenal pula sebagai passing game. Bola akan mengalir dari kaki ke kaki pemain dalam jarak pendek menuju gawang lawan.

Di samping itu, kata Asisten Pelatih Timnas Indonesia U-19 Guntur Cahyo Utomo pada Kamis (22/5/2014), timnas berjulukan Garuda Jaya itu juga memanfaatkan teknik ball position. Teknik ini merupakan cara penguasa bola agar tak mudah lepas ke kaki lawan. "Tim tampil dengan ciri permainan sendiri," kata pria kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah ini.

Guntur mengaku telah melihat rekam jejak pertandingan Timnas Yaman U-19 selama ini. Menurut peraih gelar master psikologi klinik dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, laga melawan Yaman adalah tantangan tersendiri bagi Evan Dimas dan kawan-kawan. Soalnya, Tim Yaman yang ditukangi pelatih Ahmed Ali ini adalah peringkat kedua Grup A Kualifikasi Piala Asia.

"Mereka salah satu tim dari Timur Tengah yang juga masuk dalam putaran Final Piala Asia di Myanmar. Ini akan menjadi pertandingan penting untuk mematangkan tim sekaligus menjajal tim-tim yang masuk dalam final Piala Asia,"  tegas Guntur Cahyo Utomo.

Sabtu, 17 Mei 2014

Mental Pemain Timnas U-19 Jadi Perhatian Khusus


Liputan6.com, Yogyakarta: Jajaran pelatih timnas U-19 terus melakukan evaluasi menjelang Piala Asia U-19 di Myanmar Oktober mendatang. Selain evaluasi fisik di Yogyakarta, jajaran pelatih juga melakukan evaluasi mental pemain. Pelatih mental timnas U-19 Guntur Cahyo Utomo mengatakan, usai pertandingan melawan timnas Myanmar, pemain terlihat sangat emosi.

Menurut Guntur, hal ini menjadi pelajaran berharga bagi timnas U-19. Hal ini menjadi pelajaran ketika nanti menghadapi lawan yang bermain keras seperti timnas Myanmar.

"Iya tentu saja itu pelajaran berharga. Kita kalah lalu emosi segala macam, lawan bermain seperti itu. Itu sesuatu yang sangat berharga. Ok. Berarti ada lawan yang bermain seperti itu. Itu sama halnya dengan melawan tim yang bermain yang sangat keras," kata Guntur Jumat (16/05/2014).

Guntur berharap evaluasi yang diberikan kepada pemain timnas bisa membuat tim berbenah diri.Untuk mengevaluasi mental Evan Dimas cs, pelatih akan melakukan program pendampingan pemain. Program mental akan disesuaikan dengan pemicu penyebab meledaknya emosi timnas.

 "Program masih sama. Kita akan lihat lagi pemicu-pemicunya. Penyebab lebih detail kemarin yang jelas kita akan bekerja terus, evaluasi dan perbaiki mereka dengan di lapangan atau seksi personal. Nanti akan ada seksi-seksi kelas tersendiri," pungkasnya.
(Defri Saefullah)


Minggu, 30 Maret 2014

Mental Pemain Timnas U-19 Terus Dipantau Hingga Umroh

Liputan6.com, Yogyakarta: Pelatih mental Timnas Indonesia U-19, Guntur Cahyo Utomo terus memantau perkembangan Evan Dimas dan kawan-kawan. Ia berharap mental para pemain bisa berada dalam tahap yang lebih baik sebelum mengikuti turnamen Piala Asia U-19, Oktober 2014 mendatang.

"Secara individu saya melakukannya setiap hari namun untuk sifat formalnya masih nunggu waktu", kata Guntur kepada Liputan6.com, Jumat (28/03/2014).

Pemberian dan pelaksanaan program mental ini bakal dilaksanakan secara rutin setelah Timnas U-19 menyelesaikan jadwal tur nusantara. Ia juga masih akan menunggu beberapa pemain yang akan menjalani ibadah umroh.

"Nanti setelah dari umroh. Sudah diidentifikasi kondisi mental masing-masing pemain. Di situ menjadi dasar untuk membuat program bersama", ucapnya.

Guntur telah membuat kerangka khusus dalam membimbing mental para pemain. Langkah ini diyakini bakal mempermudah saat memantau perkembangan mental para punggawa tim Garuda Jaya. (Van)

(Bagusthira Evan Pratama) 
 

Senin, 10 Februari 2014

Pelatih Mental Timnas U-19 akan Buka Kelas Kecil


TRIBUNNEWS.COM - Pelatih mental timnas Indonesia U-19 Guntur Cahyo Utomo bakal mengenjot mental pemain di sela-sela rangkaian tur nusantara.
Ia berencana membuka kelas kecil dan pendekatan individual pada beberapa pemain. Ini dilakukan agar pemain lebih fokus ke pertandingan.

Sewaktu menang susah payah atas tim Pra Pekan Olahraga Nasional (PON) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (7/2/2014), ada beberapa pemain yang tampil di bawah performa. Padahal, ketika latihan, mereka begitu bersemangat dan bertenaga.

Akurasi umpan terjaga, teknik individu menonjol, dan kerja sama antar sesama rekan terbangun rapi. Namun, sewaktu di pertandingan sesungguhnya yang disaksikan ribuan suporter di Stadion Mandala Krida, kelebihan-kelebihan itu menguap. Apapun yang dilakukan salah.
Efeknya ada beberapa pemain yang lambat beradaptasi sehingga harus ditarik keluar lapangan. Menurut Guntur, persoalan sudah terlihat jelas yakni tidak mudah bertanding dihadapan banyak orang dan disiarkan secara langsung.

"Bagi beberapa pemain, itu pengalaman pertama mereka. Jadi banyak sekali pikiran di luar sepak bola. Jadi permainannya nggak jelas. Kurang konsentrasi. Selanjutnya, saya akan berusaha untuk melakukan pendekatan kepada pemain. Mereka harus diingatkan bahwa ada atau tidak ada penonton ya sama saja. Mereka harus mengembalikan potensi terbaik yang dimiliki," ungkap Guntur kepada Super Ball.