VIVAbola - Nama Indra
Sjafri mencuat setelah sukses mengantarkan Timnas Indonesia U-19
menjuarai Piala AFF 2013 di Jakarta. Tak hanya itu, kesuksesan pelatih
asal Sumatera Barat ini pun berlanjut dengan membawa Timnas U-19 lolos
ke Piala Asia 2014 di Myanmar.
Perjalanannya bersama skuad
Garuda Jaya mesti berakhir setelah dipecat oleh PSSI, karena dianggap
gagal membawa Timnas U-19 lolos ke Piala Dunia 2015 di Selandia Baru.
Namun, Indra tetap mendapat apresiasi dan simpati dari masyarakat
Indonesia, karena dinilai mampu menyudahi puasa gelar Indonesia selama
22 tahun.
Selepas tak lagi menangani Timnas U-19, banyak rencana
yang akan dilakukan pelatih berusia 51 tahun ini ke depan. Simak
perbincangan hangat dengan Indra Sjafri saat dia mengunjungi kantor VIVA.co.id:
1. Anda baru saja diberhentikan sebagai pelatih timnas U-19. Sebenarnya apa dasar dari PSSI memutus kontrak Anda?
Kita
kontrak sampai 2015, dengan target lolos ke Piala Dunia (U-19).
Padahal target saya waktu persentase awal itu, juara AFF, lolos Piala
Asia, lolos Piala Dunia. Satu target yang tidak sesuai harapan,
sedangkan dua lagi tercapai. Namun karena target ini (Piala Dunia) tidak
tercapai, maka jadi alasan utama saya tidak lanjut meski kontrak masih
sampai 2015.
Keputusannya tidak sepihak. Jadi, di klausul
kontrak, perjanjian itu, saya dikontrak sampai Oktober 2015. Isinya
begini: "Tugas adalah mempersiapkan Timnas U-19 sampai lolos ke Piala
Dunia 2015.
PSSI tentu mengevaluasi, apakah masih lanjut ke 2015
atau tidak. Pertimbangannya satu, gagal. Yang kedua kan tidak ada
kegiatan dulu sekarang. Kami pribadi pun tidak enak, misalnya tidak ada
pekerjaan, terus digaji sama federasi. Tapi kalau federasi mau komitmen
berkesinambungan, kan banyak yang bisa kami lakukan. Seperti bikin
program TC yang tidak jangka panjang, berkala.
Targetnya seperti
apa? Kan paling ideal, nanti mereka main di Pra Olimpiade, SEA Games
2015, Asian Games 2018. Kan itu saja event yang akan mereka lalui,
selain itu enggak ada. Baru nanti mereka mencoba-coba lolos Piala Dunia
senior 2022 di mana kualifikasinya akan dimulai sekitar 2020.
2. Jadi apakah Anda merasa gagal sebagai pelatih timnas U-19?
Saya
senang dan saya menganggap saya tidak gagal 100 persen. Karena
bagaimanapun, tidak lolos Piala Dunia, saya konsekuen. Konsekuensi
seorang pelatih itu harus bertanggung jawab dengan hal itu. Kenapa sih
kita enggak masuk (piala dunia)? Saya uraikan semua di hadapan Badan Tim
Nasional (BTN) dan HPU.
Enggak pernah tim nasional pelatihnya
diberhentikan satu-dua tahun. Jarang. Apalagi progres yg dilakukan ada.
Saya bukan membanggakan diri, mungkin kalo diinventarisir, dari senior
sampai junior, dari zaman Tony Pogacnik, ada enggak yang dalam 2 tahun
memberikan 4 gelar? Coba aja diulang lagi, terlepas ini gelar usia muda
atau tidak.
Ada enggak yang berurutan dari juara AFF, ke Piala
Asia, dengan satu pelatih? Coba saja di-review, enggak ada. Apa itu satu
kegagalan sehingga saya harus didepak? Ya itu Wallahualam.
3. Sebenarnya apa yang menyebabkan Timnas U-19 gagal di Piala AFC Myanmar?
Saya sudah uraikan, hampir semua gol-gol yang terjadi, karena jeleknya pertahanan kita.
Bayangkan
lawan Australia, satu, dua, tiga, empat, pemain lawan satu, through
pass (umpan terobosan), masak ini enggak bisa empat lawan satu.
Itu
menjadi PR (Pekerjaan Rumah). Saya tetap memberikan report itu kepada
HPU, BTN. Idealnya nanti, yang saya laporkan, pelatih baru ( Timnas
U-19) harus terima itu juga. Tapi kan tidak mungkin. Jarang yang mau.
Enggak tahu kalau pelatih asing, dia akan minta report tim ini
sebelumnya. Tapi kalau pelatih lokal belum tentu mau. Dia akan mulai
lagi dari awal. Inilah yang terjadi dalam sepakbola kita, dari dulu.
Berkutat-kutat di situ.
4. Apa kelemahan ini tidak bisa diantisipasi sejak awal?
Jadi
dari proses satu tahun itu kan saya bikin periodesasi persiapan. Kalau
untuk fisik kan 2 bulan awal. Sedangkan taktik kan mulai dari spesifik.
Di situ kan kami baru teruji saat tur Eropa. Sebelumnya waktu kami habis
untuk 20 pertandingan di Tur Nusantara.
Awalnya, konsep saya,
itu hanya 5 titik. Yang terdekat, timnya datang. Misalnya Padang, timnas
datang ke Padang. Nah dari tim dari Aceh datang ke Padang, Medan ke
Padang, Palembang ke Padang. Main empat kali, lawan wajib kelahiran
1995. Tujuan saya, seandainya ada pemain dari tim-tim itu. Siapa tahu
masih ada pemain-pemain kelahiran 1995 yang bagus. Itu gunanya. Tapi kan
setelah itu berubah.
Kami harus Tur Nusantara dengan 20
pertandingan dan disiarkan langsung. Saya minta SCTV bisa main tidak
pukul 19.00? Tidak bisa, iklan dan sinetron pukul 19.00 sampai 20.00.
Bayangkan kami harus main pukul 21.00. Selesai jam 23.00. Anak-anak
rata-rata baru bisa tidur jam 01.00 dini hari setelah terapi berendam di
es.
Strategi termasuk dari periodisasi persiapan. Itu yang
dimaksud, tidak mungkin taktik dalam pertandingan, tapi dalam
periodisasi itu yang penting kan team table-nya untuk mencapai peak
(puncak)-nya itu.
Tapi kan saya ditemukan dengan situasi-situasi
yang menuntut saya berkompromi. Makanya waktu Menpora (Roy Suryo)
bilang, "Indonesia terlalu banyak uji coba". Harusnya dia tidak ngomong
kaya gitu. Kalau mau dia begini; "Hei PSSI, ini duit loh, mau masuk
Piala Dunia, nih pemerintah kasih nih." "Nih 50 Miliar jangan 35 Miliar.
Jangan ganggu periodisasi coach Indra. Jadi kami tidak perlu jual ke
SCTV atau ke mana-mana. Kami harus ke Eropa, harus ke sini, prosesnya
jalan dengan cepat.
Kalau taktik, pertahanan kita jelek atau
tidak? Jelek sekali, karena kita memainkan sepakbola menyerang. Kalau
kita baca permainan timnas u-19, jangan biarkan mereka mainkan bola.
Begitu lawan dapat bola, lawan langsung counter attack dan langsung
kocar-kacir. Tetapi, kalau saya hanya bentuk defend (bertahan) dulu,
terus kalau dapat bola, boom, kalau dapat bola, boom, defend kuat nih,
tapi lama-lama kan kita bobol juga.
Makanya, apa yang harus
dibentuk dulu. Kalau mau memenangkan pertandingan, kami harus menyerang.
Dalam arti kata, bola kami kuasai. Kalau bola kami kuasai, berarti kami
kan tidak kena serang.
Jadi di situ, peak-nya tidak sampai.
Mereka pulang dari Eropa, kami istirahat hanya 10 hari. Itu kalau
adaptasi jetlag 5 hari, setelah 5 hari kami harus naikkan lagi untuk
sampe peak. Itu yang kami sampaikan ke PSSI, makanya saya bilang akui
kesalahan.
Tidak apa-apa, saya salah secara teknis, tapi
non-teknis? Lain kali, kalau menyiapkan tim nasional untuk level yang
lolos Piala Dunia atau Piala Asia, dana pembinaan harus ada dan
tersedia, jangan tergantung orang. Nah situasi itu yang saya hadapi.
5.Di Myanmar, kita sering kehilangan bola, Kenapa?
Tiga
gelandang yang biasanya, Zulfiandi, Hargianto, Evan Dimas. Zulfiandi
cedera di HBT (Hassanal Bolkiah Trophy). Ganti Paulo (Sitanggang). Paulo
bagus, tapi untuk ritme, tactical kita, tidak masuk untuk Paulo.
Zulfiandi tidak bisa main sama sekali. Main pertama saja, tapi
sebenarnya tidak bisa. Sakit lagi.
Tetapi kita menyiapkan
individu-individu pemain, baik teknis dan non-teknis. Kita karena tidak
punya gelar juara, usia muda itu jadi seperti penebus dosa.
Kegagalan-kegagalan di bidang lain dicurahkan ke anak-anak. Saya sampe
nangis loh kalo lihat anak-anak tidur. Tanggung jawab semuanya dia harus
bawa, lolos ke Piala Dunia!
Kalau Cak Nun (Budayawan, Emha Ainun
Najib) bilang, masak kegagalan politik, kegagalan ekonomi, dan di
segala bidang, ditumpahruahkan ke anak-anak U-19.
6. Seberat apa tantangan yang Anda hadapi saat menangani timnas U-19?
Di
Indonesia sekarang kan sudah ada kompetisi usia muda seperti Soeratin
Cup. Tapi di tingkat kabupaten kongkalikong masih banyak. Waktu masih
dualisme, saya pilih pemain sampe jam 3 pagi. Harus begini, harus
begitu. Saya mau ambil pemain dari Villa 2000 tidak boleh karena mereka
kan waktu itu Persija yang kubu sini.
Wah stres. Makanya waktu
itu saya bilang, kalau memang bukan pemain yang saya pilih, saya tidak
berangkat. Dan silakan pilih sendiri. Untung juara, kalo tidak juara,
dipecat saya saat itu juga.
Sama, AFF dan AFC kan tahu sendiri
lah bagaimana. Saya sudah biasa menghadapi situasi seperti ini, tidak
panik dengan hal-hal seperti ini. Lebih gawat dulu, AFF kalau saya
tidak juara, saya selesai loh. Piala Asia kalau tidak lolos, saya juga
selesai.
Namun Tuhan tidak akan memberikan beban yang tidak
sanggup kepada umatnya. Tapi kita tak bersyukur, juara AFF lho, sudah 22
tahun, ya kan. Investasi 2 tahun, bisa juara, bisa lolos Piala Asia.
Itu kan duit pencarian anak-anak sendiri, bukan federasi. Kalau lolos
Piala Dunia juga saya takutnya jadi pembenaran, tidak perlu lama-lama
membina.
"Tuh Indra Sjafri saja lolos cuma dua tahun". Tapi memang seninya begini, perjuangan itu turun naik.
7. Bagaimana para pemain menghadapi kegagalan di Piala Asia U-19 dan cara Anda untuk mengembalikan kepercayaan mereka?
Harus
lolos Piala Dunia, gila enggak? Saya melihat mereka, kasihan loh. Tapi
mereka, karena memang anak-anak baik, kalah, tidak ada yang bisa
tertawa, sampai beberapa hari. Memang itu tanggung jawab. Memang
mentalnya anak-anak bagus.
Ya tentu dari pemilihan awal dulu, ada
tes-tes. Psikotes, ada kan dalam psikotes itu orang yang cepat
menyerah, cepat puas, kan di situ terindentifikasi. Kami jadikan
parameter atau ukuran untuk memilih mereka di sisi mental. Karena ada 4
parameter, yakni, skill, tactical, kemampuan fisik, dan mental. Mereka
anak-anak yang tidak cepat menyerah, begitu terpuruk, bangkitnya cepat.
8. Apa tanggapan para pemain saat mengetahui Anda sudah tidak lagi menjabat sebagai pelatih timnas U-19?
Saya
sudah seperti ayah sama mereka (para pemain Timnas u-19). Dua tahun
lebih. Kemarin saja anak saya sendiri itu sama saya kaya hambar begitu.
Kayak bukan sama bapaknya. Terus dia tanya, kapan bapak pergi lagi?
Saking saya lebih banyak dengan mereka (pemain timnas u-19). Tentu
mereka (pemain timnas u-19) kan enggak cengeng.
Saya dari dulu
bilang kepada mereka harus mandiri, tentukan sikap sendiri. Maka untuk
gabung klub mereka tanya. Mana yang saya pilih? Persebaya kah, Barito
kah. Saya hanya memberikan pandangan-pandangan. Persebaya begini, Barito
begini, klubnya begini, silahkan putuskan sendiri. Saya sampaikan itu.
Kalau
komunikasi, kita kan punya grup. Kan ada saja anak-anak itu bercanda.
"Selamat dipecat ya coach!" Oke, saya bilang. Ya, kan anak-anak itu tahu
situasi lah. Mereka paling tahu karatkter saya. Saya orang yang enggak
takut disuruh orang berhenti. Makanya anak-anak bilang, selamat
dipecat. Banyak yang jahil-jahil begitu.
9. Mengenai kebiasaan cium tangan dan selebrasi sujud syukur, awalnya seperti apa?
Jangan
bangga dulu, kita lihat Myanmar. Para pemainnya, setelah mereka dengan
pelatihnya, mereka datangi saya dia beri salam. Kan kultur yang
dibangun. Saya maunya begitu di timnas U-19. Makanya, kenapa timnas U-19
ini disukai, dicintai oleh banyak orang Indonesia.
Aceh saja
yang enggak pernah nonton bola, 55 ribu di dalam ditambah 5 ribu
penonton lagi di luar (saat tur Nusantara) dan begitu main tidak ada
yang ribut. Karena mereka melihat ada yang berbeda, tidak hanya mainnya
loh.
Ada aura berbeda, itu yang harus dibangun. Sepakbola tidak
hanya bicara kalah menang, kalo bicara kalah menang ya kaya sekarang.
Ada pelatih yang mencekik pemain, macem-macem. Ada suporter yang
bakar-bakar karena sepakbola hanya diukur dari kalah-menang.
Itu
yg saya ingin bangun lewat akademi. Kan ideal, kalau head-to-head dengan
negara lain. Kita masih di sini, makanya ada hal lain yang harus kita
bangun. Habis cetak gol, Sujud syukur, bagaimana mereka mencintai
negaranya.
Kita jangan dipikir banyak duit. enggak banyak duit
kita, tapi tidak satu kali pun anak-anak itu bicara duit. Dikasih oke,
enggak dikasih tidak apa-apa. Tidak ada masalah karena sudah terbukti,
kalau sukses seperti apa. Ada yang dapat rumah, ada yg dapat apa. Itu
kalau ikhlas. Kultur seperti itu terbentuk sejak Piala AFF.
Kaya
shalat jamaah, kan juga ada yang bilang orang Islam tidak boleh antarkan
orang Kristen ke gereja. Saya suruh anak-anak yang muslim antarkan
Maldini (Pali) pakai mobil. Untuk saya, kalau karena itu saya dikasih
dosa sama Tuhan, terserah lah. Karena kan, agama itu mengatur bagaimana
sih orang harmonis di dunia ini. Saya ajarin ke mereka.
Lihat
Paulo Sitanggang, kemarin cetak gol dia minta teman-temannya sujud
syukur lalu dia buat tanda seperti ini (tanda Salib). Saya pengen nangis
melihat itu. Bagi saya, walaupun kalah tim saya, yang seperti itu
nilainya tak terhingga. Makanya saya tidak khawatir dengan anak-anak,
walau mau berpisah dengan saya. Saya tidak khawatir.
Dan mereka
pasti akan memacu dirinya. Saya bilang, kalian jangan tergantung dengan
satu orang pelatih. Pelatih setiap saat bisa berganti, tapi karier
kalian harus tertata.
Siapa pun pelatihnya, harus kalian hormati.
Pelatih posisinya sama dengan orang tua. Ini yang saya tanamkan,
makanya saya tak khawatir. Satu cita-cita yang tidak kesampaian saya,
saya pingin mereka itu satu kelas, ikut lisensi kepelatihan C AFC.
Kan
persyaratannya usia 18 tahun, minimal. Inikan mereka sudah masuk usia
itu 23 pemain. Saya ingin 23 pemain itu punya lisensi C di usia 19
tahun. Nanti begitu mereka berkiprah di senior, mereka sudah harus
kantongi lisensi B, begitu keluar, mereka tinggal nyari lisensi A.
Tujuannya, pertama untuk memperbanyak pelatih, yang kedua kalau nanti
mereka, ingin melatih sudah punya lisensi. Kan kasihan juga kita melihat
ada pemain nasional yang tidak bisa melatih karena tidak punya lisensi
di usia yang tidak muda.
Kepikiran engak itu sama federasi,
sama pelatih lain. Saya pikirin sama sejauh itu. Kuliah juga, mereka
masuk Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gajah Mada (UGM),
kalau mereka tidak main bola, tidak terpakai, minimal di lingkungannya
mereka, mereka terpakai. Dihormati orang.
Hal-hal seperti itu
harus dimulai dari usia 6-12 tahun. Sama dengan masalah nutrisi juga.
Kalau tidak saya lakukan sejak 6-12 tahun, susah. Nanti, di depan kita
mereka makan pakai menu kita. Eh tahunya dia telepon McDonald, dia
telepon KFC, dia pesen bakso Malang. Dia suruh satpam atau kitman untuk
beli, 16 tahun mereka makan bebas kita ubah dalam setahun. Bisa? Tidak
bisa. Makanya dimulai dari usia 6-12 tahun.
10.Apa saran Anda bagi pembinaan usia muda ke depan?
Kalau
PSSI banyak kegiatan, yang perlu diperbanyak kan pelatih. Kami lihat
kualitasnya, itu kan tugas PSSI sebenarnya. Sekarang kan, pelatih kita
didata paling 3 ribu orang. Jepang kenapa dia bagus, 61 ribu. Bayangkan 3
ribu, negara sebesar ini.
Sekarang yang lebih parah lagi,
ditambah sponsor yang memang mau begituan. Kompetisi ini, kompetisi itu
digelar. Dia pikir kompetisi itu jalan satu-satunya.
Kompetisi
kalau menurut saya, sama seperti ujian. NEM-nya tidak akan tinggi kalau
belajarnya tidak bagus. Dia kan belajar dulu, lalu ujian, setelah itu
evaluasi, belajar lagi lalu ujian. Fasilitas sekolahnya kalau tidak
bagus NEM-nya juga tidak akan tinggi.
Bagaimana NEM mau tinggi,
kalau ujian terus. Sekarang tugas PSSI bagaimana menambah pelatih. Kalau
perlu Menpora baru bikin anggaran untuk para pelatih berlisensi C dan B
gratis bila mau pendidikan ambil lisensi yg lebih tinggi. Kalau peduli
dan memang ingin lolos ke Piala Dunia.
Sekarang sebenarnya,
kalau kita sepakat, cara bermain u-19 itu menjadi trademark atau
identitas permainan sepakbola indonesia. Kita harus uraikan loh, dengan
identitas begitu, profil pemain yang dibutuhkan harus begini. Kanan
luar profilnya ini, kiri luar profilnya seperti ini, striker seperti
ini, penjaga gawang ini, bek kanan seperti ini, gelandang begini,
holding midfieldernya profil begini.
Jadi, profil yang kita bikin
itu, diterjemahkan dengan kurikulum. Untuk membentuk profil ini, ini
kurikulumnya. Sampai ke silabus untuk para pelatih. Contoh seperti yang
saya rasakan sekarang. Indonesia kalau pressure tinggi, kesalahan sudah
banyak.
Berarti perbanyak nanti passing supportnya. Kalau perlu
jam pembelajarannya dominan itu. Kan itu yang kurikulum dan kurikulum
tidak konstan loh. Bisa saja 5 tahun ke depan, level kita lebih tinggi,
kurikulumnya pun jangan main passing support lagi. Nah ini yang akan
saya bikin rencana sama teman-teman, mau bikin kurikulum.
Klub
Spanyol sudah mengikuti kurikulum yang ada di sepakbola Spanyol dan itu
jadi kewajiban pembinaan usia muda, mereka bikin profil untuk yang
begitu. Kurikulum yang mau diterapkan di sekolah sepakbola (SSB). Kalau
kita kan masih mengenal SSB, kalau di luar kan tidak ada SSB. Adanya
akademi klub-klub. Akademi klub juga dibagi dua, akademi yang
pemain-pemain terbaik dan soccer school, itu yang hobi.
11. Apa rencana Anda ke depan?
Mungkin,
dalam waktu dekat ikut kepelatihan. Rencananya di Spanyol. Waktu saya
datang ke sana (tur spanyol), saya komunikasi lewat email, komunikasi
dengan Valencia, komunikasi dengan Barcelona, Real Madrid,
dan orang yang pegang usia muda di situ. Saya ngomong ke dia, mungkin
nanti setelah Piala Asia saya datang lagi ke sini. Dia welcome dan dia
fasilitasi. Tempat, semua dia fasilitasi. Itu penyegaran , tapi kalau
ada program lisensi kan saya bisa ikuti.
Saya juga dapat tawaran
dari beberapa klub besar. Namun saya tidak terlalu bangga bila
disodorkan kayak begitu. Kalau saya ingin tenang, saya ambil saja. Bisa
dapat Rp 1 miliar atau Rp1,5 miliar. Tanggung jawabnya hanya melatih
orang yang sudah pandai main bola. Saya bukan sok idealis, saya memang
peduli dengan sepakbola Indonesia usia muda. Jangan juga
menyalah-nyalahkan PSSI, Indra Sjafri dipecat. Menurut saya itu hal
tetek bengek banget. Orang-orang tahu kok saya sudah punya kiprah di
tim nasional dan ada hasilnya.
Ke depan saya juga ingin buat
akademi. Nama akademinya tidak pake Indra Sjafri. Nanti saya kecelakan
bikin amoral kan, repot jadinya. Saya sudah bikin, yayasan. Sudah siap,
sponsor sudah ada. Sport centre-nya di Bontang, kantornya di MTA. Saya
dikasih gratis begitu saja sama orang, sudah selesai kantornya.
12. Kenapa di Bontang tidak di daerah lain?
Karena
itu yang dikasih. Saya dikasih hibah tanah 30 hektar, maka saya imbau
kalau ada sponsor-sponsor, jangan cuma ngomong doang
perusahaan-perusahaan besar itu. Mau masuk Piala Dunia, suruh bantu
enggak mau.
13. Apakah Anda akan tetap blusukan dalam mencari pemain?
Jangan
dipikir pelatih itu harus blusukan. Saya pakai sistem blusukan, karena
saya tidak sabar menunggu. Itu bukan tugas pokok pelatih tim nasional.
Harusnya talent scout daerah. Sekarang sistem itu yang tidak berjalan,
makanya kita blusukan. Mencari sendiri. Tapi memang, seni mencari pemain
itu kan berbeda.
Scouting semua, belum tentu yang dipilih itu
masuk kriteria kita. Pelatih memilih langsung itu lebih bagus, tapi
kalau pilihan awal, kan tidak apa-apa. Indonesia sebesar ini. Saya
yakin, orang yang lebih bagus dari Evan Dimas itu masih banyak di
Indonesia. Percaya tidak? Cuma belum ketemu saja.
14. Beberapa pemain Anda saat ini tengah dipanggil memperkuat Timnas senior, bagaimana tanggapan Anda?
Saya
sering berkomunikasi dengan Alfred Riedl (pelatih timnas senior). Kalau
Riedl saya pikir pelatih yang sudah paham Indonesia. Bagaimana dia
saling respek dengan sesama pelatih, dia sudah paham. Sangat bagus. Tapi
kan kalo bagi saya, untuk tim senior sekarang, tentu sudah mentok.
Untuk bicara dunia, sulit.
Peluang timnas di AFF, ya karena
persiapan kurang maksimal, ada terpotong-potong, kompetisi terpotong
pemilu, puasa, Riedl pasti pusing. Karena setiap pelatih kan punya
periodisasi, kalau sisa setahun dia bikin setahun periodeisasinya, kalau
6 bulan dia buat enam bulan, kalo 3 bulan dia buat 3 bulan. Ini mau
bikin apa periodeisasinya.
Ini kumpul 10 orang, kemudian bubar
lagi. Tapi kan kalo senior sudah ada dalam aturan statuta, pemain wajib
msk TC itu kan paling 2 minggu. Tapi kan biasanya ada penyiasatan,
seperti Jerman, pemain tim nasionalnya ditumpuk di Bayern Munich atau
Hamburg. Pelatihnya Munich pun dicari yang bagus. Makanya kita juga
harus tiru.
Itu sebabnya, pemain timnas U-19 ditumpuk Pak La
Nyalla (Ketua BTN) di Persebaya Surabaya. Kan ada yang bilang, nanti
kalau pemain timnas U-19 sudah main di Persebaya, bakal ramai. Tapi,
saya becandain, kalau bukan saya yang di pinggir lapangan, gak bakal
rame. Makanya buru-buru kontrak saya. (sembari tersenyum).
15. Saat Anda diberhentikan, banyak orang yang menaruh simpati sampai-sampai menjadi trending topic di Twitter, tanggapannya?
Tapi
kan bersimpati saja tidak cukup. Ayo kalau yang bersimpati, saya punya
akademi, bantu dong Rp10 miliar masing-masing. Ada enggak duit segitu,
kan tidak hanya simpati begitu saja. (sembari tertawa)
16. Apakah Anda kecewa diberhentikan sebagai pelatih timnas U-19?
Kan
tidak harus di PSSI. Federasi hanya secuil dari semua kegiatan. Sudah
banyak orang yang peduli dengan usia muda. Sponsor juga loh, sudah
melirik usia muda. Sayang kalo itu tidak dikemas dengan baik. Kalau mau
senang, saya tanda tangan saja empat musim dengan klub. Tapi saya ingin
bermanfaat untuk orang lain.