Rabu, 08 Oktober 2014

PROFIL Calon Lawan Timnas Indonesia U-19: Uni Emirat Arab U-19

Goal.com - Uni Emirat Arab U-19 bakal jadi salah satu lawan timnas Indonesia U-19, dalam Grup B Piala Asia U-19 yang berlangsung di Myanmar. Tim asal dari timur-tengah tersebut sudah bukan nama asing dalam pagelaran turnamen ini. Berbagai prestasi mampu ditorehkan oleh tim junior negara penghasil minyak tersebut.

Sayangnya catatan yang mereka lukiskan tidak dibarengi dengan tingkat konsistensi yang baik. Berpartisipasi sejak pagelaran pertama pada 1982, UEA lolos sebanyak 11 kali dan lima kali gagal melewati babak kualifikasi. Prestasi terbaik mereka terjadi pada pagelaran 2008 di Arab Saudi, dengan keluar sebagai kampiun.

Namun setelahnya grafik UEA cenderung menurun, seakan kembali ke dalam masa sebelum mereka meraih gelar juara. Dihentikan Australia di babak perempat-final pada 2010, tim berjuluk Al Sukoor ini secara mengejutkan gagal lolos dari fase grup, kendati jadi tuan rumah turnamen pada 2012.

Kini UEA mengusung misi baru untuk bangkit dari keterpurukan dan mengembalikan status mereka sebagai tim elit. Berada satu grup dengan Australia, Uzbekistan, dan tentunya Indonesia, Rashed Ahmad cs jelas tak bisa dibilang inferior.


                                             UEA pernah jadi juara pada pagelaran 2008

Misi untuk bangkit terpapar jelas dari hasil sempurna yang UEA torehkan sepanjang babak kualifikasi. Tergabung dalam Grup B bersama Yordania, Yaman, Maladewa, dan Afghanistan, The Falcons sukses menyapu bersih semua laga dengan kemenangan. Rekor gol mereka pun mengesankan dengan 15 kali memasukkan dan hanya sekali kebobolan.

Rasa optimisme tinggi dari publik akan ulangan prestasi 2008 begitu terpancar, menilik torehan tersebut. Namun keyakinan itu patut dipertanyakan tatkala UEA menggelar serangkaian partai uji coba untuk persiapan Piala Asia. Dari delapan laga uji coba yang dihelat, The Whites mencatat hasil identik dengan empat kemenangan serta empat kekalahan.

Terdapat catatan khusus dari empat kemenangan UEA, karena tiga di antaranya diraih dari lawan yang sama, yaitu Mesir U-19. Sementara dua dari empat kekalahan mereka diperoleh dari salah satu lawan di fase grup nanti, yakni Indonesia U-19.

Ya, Evan Dimas cs pernah menghempaskan UEA dalam tur timur-tengah lalu, jelang persiapan mereka ke Piala Asia. Setelah menang telak lewat skor 4-1 di pertemuan pertama, tim asuhan Indra Sjafri kembali meraih hasil sempurna, dengan skor tipis 2-1.

Permainan bola diagonal racikan pelatih lawas, Khalifa Mubarak, mulai tampak kelemahannya saat itu. Dengan cerdik Paulo Sitanggang cs mengakali kekalahan tinggi badan lewat permainan cepat dengan peragaan umpan 1-2 yang indah. Satu hal yang tak jauh beda terjadi saat UEA juga menelan kekalahan dari Jepang U-19 dan Slowakia U-19.

UEA pun melahirkan masalah baru soal ketergantungan terhadap seorang pemain. Mereka seakan kehilangan cara mencetak gol andai ditinggal sang striker andalan, Ahmed Al Hashmi. Maklum, stirker Al Jazira tersebut adalah top skor tim sepanjang kualifikasi dengan tiga gol.

Tak mau jadi bulan-bulanan kritik publik, Federasi sepakbola UEA pun mengganti Mubarak dengan pelatih kawakan, Abdulla Mesfer. Hasilnya mulai sedikit terasa manakala mereka sukses meraih kemenangan 2-0 atas lawan dari Eropa, Georgia U-19, dalam uji coba terakhir.

Menilik pergantian pelatih yang otomatis mengubah strategi permainan, Garuda Jaya jelas tak boleh menganggap remeh kekuatan UEA, meski pernah menghempaskan mereka dua kali beruntun. Performa terkini yang mereka tunjukkan juga berpotensi menyandung langkah Indonesia di partai pamungkas.

Namun dengan tegas, sang paltih, Indra Sjafri, mengapungkan keyakinannya hadapi UEA. "Jika melawan tim dari Timur Tengah, kami mainnya lebih enak. Orang-orang tinggi biasanya takut dengan tim-tim yang bermain cepat. Makanya, seperti Atletico Madrid B dan Valencia B kesulitan lawan kami. Tapi, kami anggap kekuatan tiga tim lain di grup B semua sama," tegasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar