Goal.com - Lawan berat sudah harus dihadapi Indonesia U-19 dalam wujud Uzbekistan U-19,
pada duel perdana Piala Asia U-19, Jumat (10/10). Bagaimana tidak, hal
itu mudah terlihat tatkala tim besutan Ravshan Khaydarov menempati pot satu dalam pengundian babak fase grup.
Bukan tanpa alasan, karena memang Uzbekistan memiliki sejarah mengkilap dalam pagelaran Piala Asia U-19. Meski absen pada pagelaran 2006, Serigala Putih selalu lolos dari babal fase grup jika sukses melalui tahap kualifikasi. Prestasi terbaik mereka adalah mencapai babak final pada 2008, di mana Uni Emirat Arab yang jadi juara lewat keunggulan 2-1.
Uzbekistan bahkan sudah mencatatkan torehan mengesankan dengan tiga kali lolos ke Piala Dunia U-20, yakni pada 2002, 2008, dan 2012, lewat jalur empat besar Piala Asia U-19. Performa mereka di pagelaran terbaru Piala Dunia U-20 pada 2013 juga impresif, dengan melenggang ke babak perempat-final, sebelum dikalahkan tim yang akhirnya jadi juara turnamen, Prancis.
Di bidang olahraga sepakbola, negara pecahan Uni Soviet itu memang sedang sorotan karena perkembangan pesatnya. Oleh karenanya generasi terkini timnas Uzbekistan U-19, sudah selayaknya meraih prestasi lebih tinggi atau setidaknya menyamai torehan di Piala Asia U-19 sebelumnya.
Sepakbola Uzbekistan sedang berkembang pesat
Namun tanda tanya besar mewarnai kiprah Uzbekistan di Piala Asia U-19 nanti. Hal itu terpapar dari terjalnya langkah mereka di babak kualifikasi. Tergabung bersama Qatar, India, Turkmenistan, dan Nepal, tim yang kala itu masih dilatih oleh Aleksey Evstafeev secara mengejutkan lolos dengan status runner-up.
Sempurna dalam tiga laga awal, meski harus bersusah payah saat hadapi Turkmenistan, Uzbekistan tunduk oleh Qatar lewat skor 2-1 di laga pamungkas. Hasil buruk itu ternyata berimbas pada serangkaian partai uji coba yang digelar federasi, jelang Piala Asia U-19.
Total terdapat tujuh partai yang digelat, yakni dua kali berhadapan dengan Armenia, Hungaria, dan Albania, serta sekali menantang Libya. Secara kuantitas, hasilnya cukup mengesankan karena Uzbekistan sanggup meraup tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan sepasang kekalahan.
Tapi tidak secara kualitas. Selain selalu kebobolan, hasil minor yang disebut terakhir sungguh membuat para pengamat ragu akan kualitas pertahanan Uzbekistan. Secara mengenaskan mereka takluk 5-0 dan 7-0 dari dalam dua kesempatan berhadapan melawan Albania.
Evstafeev dikritik habis-habisan akibat performa buruk tersebut. Ia akhirnya memilih untuk mundur dan menerima tawaran melatih FC Bunyodkor dan posisinya digantikan oleh Ravshan Khaydarov sejak 24 Juni 2014. Pria berusia 53 tahun itu memang tak pernah jadi pelatih kelompok umur di level timnas, tapi ia sama sekali bukan arsitek kacangan.
Khaydarov pernah membawa Pakhtakor menjuarai Liga Uzbeskistan pada 2006 dan 2007 serta Piala Uzbekistan di momen yang sama. Ia juga pernah terpilih sebagai pelatih terbaik di Uzbekistan pada 2005 dan 2007.
Dalam waktu singkat jelang keberangkatan, perombakan besar langsung dilakukan Khaydarov. Ia lebih mengedepankan skuat Uzbekistan U-17 yang mampu lolos ke babak 16 besar Piala Dunia U-17. Karenanya nama-nama beken macam Rustamjon Ashurmatov, Andrey Sidorov, hingga kapten terdahulu, Abduraimov Serzodbek, jadi tersingkir.
Pengalaman serta kecerdasa taktinya diyakini mampu memaksimalkan potensi para pemain kunci macam Bobir Davlatov, Asliddin Abdiev, dan Zabikhillo Urinboev. Menilik paparan tersebut, Uzbekistan jelas jadi lawan yang bisa menghadirkan tingkat kewaspadaan tinggi bagi tim Garuda Jaya.
"Yang saya sudah lihat video pertandingannya adalah Uzbekistan U-19. Kerja sama tim Uzbekistan bagus, terutama dengan mengandalkan skema bola atas. Saya rasa, mereka mengalami perkembangan dari sebelumnya," tutur kapten timnas Indonesia U-19, Evan Dimas.

Bukan tanpa alasan, karena memang Uzbekistan memiliki sejarah mengkilap dalam pagelaran Piala Asia U-19. Meski absen pada pagelaran 2006, Serigala Putih selalu lolos dari babal fase grup jika sukses melalui tahap kualifikasi. Prestasi terbaik mereka adalah mencapai babak final pada 2008, di mana Uni Emirat Arab yang jadi juara lewat keunggulan 2-1.
Uzbekistan bahkan sudah mencatatkan torehan mengesankan dengan tiga kali lolos ke Piala Dunia U-20, yakni pada 2002, 2008, dan 2012, lewat jalur empat besar Piala Asia U-19. Performa mereka di pagelaran terbaru Piala Dunia U-20 pada 2013 juga impresif, dengan melenggang ke babak perempat-final, sebelum dikalahkan tim yang akhirnya jadi juara turnamen, Prancis.
Di bidang olahraga sepakbola, negara pecahan Uni Soviet itu memang sedang sorotan karena perkembangan pesatnya. Oleh karenanya generasi terkini timnas Uzbekistan U-19, sudah selayaknya meraih prestasi lebih tinggi atau setidaknya menyamai torehan di Piala Asia U-19 sebelumnya.
Namun tanda tanya besar mewarnai kiprah Uzbekistan di Piala Asia U-19 nanti. Hal itu terpapar dari terjalnya langkah mereka di babak kualifikasi. Tergabung bersama Qatar, India, Turkmenistan, dan Nepal, tim yang kala itu masih dilatih oleh Aleksey Evstafeev secara mengejutkan lolos dengan status runner-up.
Sempurna dalam tiga laga awal, meski harus bersusah payah saat hadapi Turkmenistan, Uzbekistan tunduk oleh Qatar lewat skor 2-1 di laga pamungkas. Hasil buruk itu ternyata berimbas pada serangkaian partai uji coba yang digelar federasi, jelang Piala Asia U-19.
Total terdapat tujuh partai yang digelat, yakni dua kali berhadapan dengan Armenia, Hungaria, dan Albania, serta sekali menantang Libya. Secara kuantitas, hasilnya cukup mengesankan karena Uzbekistan sanggup meraup tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan sepasang kekalahan.
Tapi tidak secara kualitas. Selain selalu kebobolan, hasil minor yang disebut terakhir sungguh membuat para pengamat ragu akan kualitas pertahanan Uzbekistan. Secara mengenaskan mereka takluk 5-0 dan 7-0 dari dalam dua kesempatan berhadapan melawan Albania.
Evstafeev dikritik habis-habisan akibat performa buruk tersebut. Ia akhirnya memilih untuk mundur dan menerima tawaran melatih FC Bunyodkor dan posisinya digantikan oleh Ravshan Khaydarov sejak 24 Juni 2014. Pria berusia 53 tahun itu memang tak pernah jadi pelatih kelompok umur di level timnas, tapi ia sama sekali bukan arsitek kacangan.
Khaydarov pernah membawa Pakhtakor menjuarai Liga Uzbeskistan pada 2006 dan 2007 serta Piala Uzbekistan di momen yang sama. Ia juga pernah terpilih sebagai pelatih terbaik di Uzbekistan pada 2005 dan 2007.
Dalam waktu singkat jelang keberangkatan, perombakan besar langsung dilakukan Khaydarov. Ia lebih mengedepankan skuat Uzbekistan U-17 yang mampu lolos ke babak 16 besar Piala Dunia U-17. Karenanya nama-nama beken macam Rustamjon Ashurmatov, Andrey Sidorov, hingga kapten terdahulu, Abduraimov Serzodbek, jadi tersingkir.
Pengalaman serta kecerdasa taktinya diyakini mampu memaksimalkan potensi para pemain kunci macam Bobir Davlatov, Asliddin Abdiev, dan Zabikhillo Urinboev. Menilik paparan tersebut, Uzbekistan jelas jadi lawan yang bisa menghadirkan tingkat kewaspadaan tinggi bagi tim Garuda Jaya.
"Yang saya sudah lihat video pertandingannya adalah Uzbekistan U-19. Kerja sama tim Uzbekistan bagus, terutama dengan mengandalkan skema bola atas. Saya rasa, mereka mengalami perkembangan dari sebelumnya," tutur kapten timnas Indonesia U-19, Evan Dimas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar