Coachindrasjafri.com - Sama sekali bukan anti pemain asing. Tapi, kalau bangsa sendiri bisa, mengapa tidak?
Susahnya mencari pemain berbakat bagi tim Garuda Jaya, bukan lantas
menjadi alasan untuk membuka keran impor bagi pemain asing guna
memperkuat U 19. Program naturalisasi pemain asing, menurut Indra, cuma
cara instan untuk menutupi kekurangan pemain berkualitas. Memakai pemain
asing juga sama saja tidak menghargai kemampuan pemain asli Indonesia,
padahal di Indonesia, banyak terdapat pemain bagus. “Jangan pernah
sodorkan saya pemain naturalisasi, karena saya tidak akan menerima
pemain tersebut,” tegas Indra Sjafri di Batu, Malang, November 2013
lalu.
Indra Sjafri sendiri punya penilaian terhadap para pemain asing.
Menurutnya, pemain asing yang berkiprah di Indonesia banyak yang tidak
disiplin. “Jadi, kehadiran mereka justru merusak mental pemain timnas
muda.” Ia percaya, Indonesia punya segudang pemain berbakat. Jadi, tidak
perlu ragu untuk bilang ‘tidak’ pada gagasan naturalisasi pemain di
timnas Garuda Jaya.
Bukan tanpa alasan Indra bersikap sekeras itu. Bersama timnya, Indra
Sjafri blusukan keliling Indonesia sampai ke 43 wilayah buat mencari
pemain-pemain berbakat. “Indonesia ini negara besar. Masa sih sampai
kekurangan pemain? Pasti adalah pemain-pemain hebat dari berbagai
daerah, masalahnya, mereka tidak terlihat karena kita tidak punya sistem
kompetisi berjenjang untuk menjaring pemain-pemain muda,” tuturnya.
Gaya blusukan pada dasarnya adalah jemput bola. Daripada menunggu
kompetisi bagi penjaringan pemain muda yang tak kunjung terselenggara,
tim Indra Sjafri akhirnya membuat metode penjaringan tersendiri.
Gagasan blusukan muncul setelah Indra gagal membawa timnas U-16 lolos
dari kualifikasi Piala AFC di Bangkok, 2011 lalu. Menurutnya, setelah
kegagalan tersebut, ia disodori 50 orang pemain, yang sebagian besar
mungkin dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.“Jelas ini bukan bukan
mencerminkan kekuatan Indonesia yang sebenarnya,” katanya. Makanya, ia
nekad mengajak timnya mencari pemain di daerah.
Indra tak peduli biarpun gagasannya ditentang. “Beberapa (orang)
bilang, di daerah sulit cari pemain. Saya tidak percaya. Saya ini anak
daerah, anak kampung. Saya tahu di daerah anak-anak kampung nggak pernah
kekurangan lapangan buat main sepakbola. Mereka bisa main kapan saja.
Beda dengan anak kota. Mereka harus ikut sekolah sepakbola kalau mau
main sepakbola. Anak kota juga terikat jadwal, nggak bisa sembarangan
main karena lapangannya terbatas. Jadi, kalau mau cari pemain bagus, ya
turunlah ke kampung-kampung!”
Hasil keliling kampung itu adalah skuad Timnas U-19 yang menorehkan
prestasi membanggakan di Piala Asia. Itu sebabnya, Indra begitu percaya
diri untuk memakai pemain asli Indonesia. Apa yang dilakukan Indra
sebenarnya mewakili suara-suara publik Indonesia yang mulai
mempertanyakan mengapa klub-klub Indonesia, atau bahkan Timnas
sekalipun, gemar memakai pemain asing.Publik Indonesia memang tergolong
kritis dalam menilai prestasi para pemain naturalisasi. Ada yang
menganggap pemain naturalisasi telah terjebak dalam popularitas ala
selebriti, sehingga lebih banyak wira-wiri sebagai bintang iklan
dibanding berlaga di arena tanding. Ada pula yang menyesalkan mengapa
PSSI tidak pede dengan modal dalam negeri. “Kasilah kesempatan anak
muda/i seluruh Indonesia berjuang demi merah putih...”
Sudah selayaknya, dan sudah waktunya kita menaruh kepercayaan pada
kekuatan bangsa sendiri.Dan, kalau bukan bangsa kita sendiri, siapa lagi
yang bisa membela Indonesia di panggung dunia?[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar