Kamis, 22 Mei 2014

Say No to 'Naturalisasi'


Coachindrasjafri.com - Sama sekali bukan anti pemain asing. Tapi, kalau bangsa sendiri bisa, mengapa tidak? 
Susahnya mencari pemain berbakat bagi tim Garuda Jaya, bukan lantas menjadi alasan untuk membuka keran impor bagi pemain asing guna memperkuat U 19. Program naturalisasi pemain asing, menurut Indra, cuma cara instan untuk menutupi kekurangan pemain berkualitas. Memakai pemain asing juga sama saja tidak menghargai kemampuan pemain asli Indonesia, padahal di Indonesia, banyak terdapat pemain bagus. “Jangan pernah sodorkan saya pemain naturalisasi, karena saya tidak akan menerima pemain tersebut,” tegas Indra Sjafri di Batu, Malang, November 2013 lalu.

Indra Sjafri sendiri punya penilaian terhadap para pemain asing. Menurutnya, pemain asing yang berkiprah di Indonesia banyak yang tidak disiplin. “Jadi, kehadiran mereka justru merusak mental pemain timnas muda.” Ia percaya, Indonesia punya segudang pemain berbakat. Jadi, tidak perlu ragu untuk bilang ‘tidak’ pada gagasan naturalisasi pemain di timnas Garuda Jaya.

Bukan tanpa alasan Indra bersikap sekeras itu. Bersama timnya, Indra Sjafri blusukan keliling Indonesia sampai ke 43 wilayah buat mencari pemain-pemain berbakat. “Indonesia ini negara besar. Masa sih sampai kekurangan pemain? Pasti adalah pemain-pemain hebat dari berbagai daerah, masalahnya, mereka tidak terlihat karena kita tidak punya sistem kompetisi berjenjang untuk menjaring pemain-pemain muda,” tuturnya.
Gaya blusukan pada dasarnya adalah jemput bola. Daripada menunggu kompetisi bagi penjaringan pemain muda yang tak kunjung terselenggara, tim Indra Sjafri akhirnya membuat metode penjaringan tersendiri.  Gagasan blusukan muncul setelah Indra gagal membawa timnas U-16 lolos dari kualifikasi Piala AFC di Bangkok, 2011 lalu. Menurutnya, setelah kegagalan tersebut, ia disodori 50 orang pemain, yang sebagian besar mungkin dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.“Jelas ini bukan bukan mencerminkan kekuatan Indonesia yang sebenarnya,” katanya. Makanya, ia nekad mengajak timnya mencari pemain di daerah. 

Indra tak peduli biarpun gagasannya ditentang. “Beberapa (orang) bilang, di daerah sulit cari pemain. Saya tidak percaya. Saya ini anak daerah, anak kampung. Saya tahu di daerah anak-anak kampung nggak pernah kekurangan lapangan buat main sepakbola. Mereka bisa main kapan saja. Beda dengan anak kota. Mereka harus ikut sekolah sepakbola kalau mau main sepakbola. Anak kota juga terikat jadwal, nggak bisa sembarangan main karena lapangannya terbatas. Jadi, kalau mau cari pemain bagus, ya turunlah ke kampung-kampung!” 

Hasil keliling kampung itu adalah skuad Timnas U-19 yang menorehkan prestasi membanggakan di Piala Asia. Itu sebabnya, Indra begitu percaya diri untuk memakai pemain asli Indonesia. Apa yang dilakukan Indra sebenarnya mewakili suara-suara publik Indonesia yang mulai mempertanyakan mengapa klub-klub Indonesia, atau bahkan Timnas sekalipun, gemar memakai pemain asing.Publik Indonesia memang tergolong kritis dalam menilai prestasi para pemain naturalisasi. Ada yang menganggap pemain naturalisasi telah terjebak dalam popularitas ala selebriti, sehingga lebih banyak wira-wiri sebagai bintang iklan dibanding berlaga di arena tanding. Ada pula yang menyesalkan mengapa PSSI tidak pede dengan modal dalam negeri. “Kasilah kesempatan anak muda/i seluruh Indonesia berjuang demi merah putih...” 

Sudah selayaknya, dan sudah waktunya kita menaruh kepercayaan pada kekuatan bangsa sendiri.Dan, kalau bukan bangsa kita sendiri, siapa lagi yang bisa membela Indonesia di panggung dunia?[]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar