Coachindrasjafri.com - Bukan rahasia lagi, bahwa keberhasilan performa timnas U19 berasal
dari ketekunan berlatih serta koordinasi yang baik antar pelatih dan
pemain. Namun dibalik kedua faktor tersebut, adapula sains yang ikut
ambil bagian dalam mencetak kesuksesan timnas.
Adalah sport science, sebuah pendekatan yang digunakan untuk mempelajari teknik-teknik yang diharapkan dapat mengembangkan performa pemain.Sport science biasanya mencakup berbagai macam bidang keilmuan, seperti misalnya sports technology, anthropometry, kinanthropometry dan performance analysis. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah program latihan agar mampu meningkatkan daya saing dalam menghadapi sebuah pertandingan.
Oleh timnas U19, sport science diterapkan baik untuk mengembangkan performa pemain maupun untuk menganalisis permainan. Dalam tiap pertandingan, ada HPU (High Performance Unit)
yang bertugas untuk menganalisis performa timnas dan calon lawan, serta
menyediakan data untuk timnas saat jeda pertandangan dan saat selesai
pertandingan. Unit yang diawaki oleh Rudy Priyambada dan Lab Bola ini
kemudian menyerahkan datanya pada Indra Sjafri dan tim pelatih untuk
dipelajari bersama guna menyiapkan strategi pada pertandingan
berikutnya. Data yang diberikan oleh HPU ini juga digunakan sebagai
bahan evaluasi oleh tim pelatih.
Selain dalam bentuk analisis data, sport science yang
diterapkan oleh timnas U19 juga hadir dalam bentuk krioterapi. Untuk
terapi ini, Indra Sjafri memberi kepercayaan pada Alfan Nur sebagai
dokter tim dan Adit sebagai fisioterapis.
Apa itu krioterapi? Krioterapi merupakan terapi yang menggunakan suhu
melalui media air. Pertama-tama, pemain masuk ke dalam air yang diatur
dalam suhu kamar, biasanya di kolam renang dimana pemain kemudian
melakukan gerakan penyegaran selama lima menit. Kemudian, pemain akan
masuk ke kolam kecil atau tong seukuran dada yang diisi dengan es batu.
Suhu dalam tong atau kolam kecil dapat mencapai 0 derajat ke bawah.
Disana, pemain akan diminta untuk berendam selama beberapa menit.
Sesudah itu, pemain diminta untuk keluar dan masuk kedalam kolam air
hangat, dan kembali lagi pada kolam pertama. Begitu terus sampai 4-5
kali.
Krioterapi ini bertujuan untuk mengembalikan fisiologi otot secara
cepat, khususnya sebagai langkah pencegahan cedera atau terapi cedera
baik pada otot, ligamen, maupun tendon.
Di Indonesia, mungkin istilah ini baru dipopulerkan oleh Indra Sjafri. Akan tetapi, di luar negeri, sport science bukanlah
hal yang baru. Malah sudah menjadi bagian dalam standar pola latihan
yang diberikan kepada pemain. Tim-tim sepakbola di Eropa sudah lama
menerapkan sport science untuk mengembangkan performa timnya.
Sebelum sport science diterapkan, para pemain bola lebih
memilih untuk pergi ke tukang urut atau tukang pijat tradisional untuk
menyembuhkan cederanya. Padahal, selain tidak efektif, cara tersebut
dapat menambah keparahan cedera yang sudah diderita oleh pemain.
Memang, penerapan sport science oleh Indra Sjafri mungkin
tidak serumit yang diterapkan oleh tim-tim sepakbola besar di luar sana,
akan tetapi, usaha ini patut diacungi jempol. Semoga dengan adanya
penerapan sport science, tim bola kita dapat mengalami kemajuan yang signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar