Sabtu, 17 Mei 2014

Sains yang Membantu Performa Timnas U-19


Coachindrasjafri.com - Bukan rahasia lagi, bahwa keberhasilan performa timnas U19 berasal dari ketekunan berlatih serta koordinasi yang baik antar pelatih dan pemain. Namun dibalik kedua faktor tersebut, adapula sains yang ikut ambil bagian dalam mencetak kesuksesan timnas.

Adalah sport science, sebuah pendekatan yang digunakan untuk mempelajari teknik-teknik yang diharapkan dapat mengembangkan performa pemain.Sport science biasanya mencakup berbagai macam bidang keilmuan, seperti misalnya sports technology, anthropometry, kinanthropometry dan performance analysis. Tujuannya adalah untuk membentuk sebuah program latihan agar mampu meningkatkan daya saing dalam menghadapi sebuah pertandingan.

Oleh timnas U19, sport science diterapkan baik untuk mengembangkan performa pemain maupun untuk menganalisis permainan. Dalam tiap pertandingan, ada HPU (High Performance Unit) yang bertugas untuk menganalisis performa timnas dan calon lawan, serta menyediakan data untuk timnas saat jeda pertandangan dan saat selesai pertandingan. Unit yang diawaki oleh Rudy Priyambada dan Lab Bola ini kemudian menyerahkan datanya pada Indra Sjafri dan tim pelatih untuk dipelajari bersama guna menyiapkan strategi pada pertandingan berikutnya. Data yang diberikan oleh HPU ini juga digunakan sebagai bahan evaluasi oleh tim pelatih.

Selain dalam bentuk analisis data, sport science yang diterapkan oleh timnas U19 juga hadir dalam bentuk krioterapi. Untuk terapi ini, Indra Sjafri memberi kepercayaan pada Alfan Nur sebagai dokter tim dan Adit sebagai fisioterapis.

Apa itu krioterapi? Krioterapi merupakan terapi yang menggunakan suhu melalui media air. Pertama-tama, pemain masuk ke dalam air yang diatur dalam suhu kamar, biasanya di kolam renang dimana pemain kemudian melakukan gerakan penyegaran selama lima menit. Kemudian, pemain akan masuk ke kolam kecil atau tong seukuran dada yang diisi dengan es batu. Suhu dalam tong atau kolam kecil dapat mencapai 0 derajat ke bawah. Disana, pemain akan diminta untuk berendam selama beberapa menit. Sesudah itu, pemain diminta untuk keluar dan masuk kedalam kolam air hangat, dan kembali lagi pada kolam pertama. Begitu terus sampai 4-5 kali.

Krioterapi ini bertujuan untuk mengembalikan fisiologi otot secara cepat, khususnya sebagai langkah pencegahan cedera atau terapi cedera baik pada otot, ligamen, maupun tendon.

Di Indonesia, mungkin istilah ini baru dipopulerkan oleh Indra Sjafri. Akan tetapi, di luar negeri, sport science bukanlah hal yang baru. Malah sudah menjadi bagian dalam standar pola latihan yang diberikan kepada pemain. Tim-tim sepakbola di Eropa sudah lama menerapkan sport science untuk mengembangkan performa timnya.

Sebelum sport science diterapkan, para pemain bola lebih memilih untuk pergi ke tukang urut atau tukang pijat tradisional untuk menyembuhkan cederanya. Padahal, selain tidak efektif, cara tersebut dapat menambah keparahan cedera yang sudah diderita oleh pemain.

Memang, penerapan sport science oleh Indra Sjafri mungkin tidak serumit yang diterapkan oleh tim-tim sepakbola besar di luar sana, akan tetapi, usaha ini patut diacungi jempol. Semoga dengan adanya penerapan sport science, tim bola kita dapat mengalami kemajuan yang signifikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar