Kamis, 22 Mei 2014

Demi Sepak Bola: Catatan Perjalanan


Coachindrasjafri.com - Riset untuk film terbaru kami yang berjudul GARUDA 19 membawa saya serta dua orang teman, Eko dan Engkong, menuju Pulau Alor, sebuah pulau kecil di ujung provinsi Nusa Tengga Timur yang berbatasan laut dengan Timor Leste. Ternyata, pulau mungil yang elok ini tidak hanya menghasilkan kacang kenari kualitas ekspor, tapi juga menghasilkan pemain-pemain sepak bola muda berbakat. Tentu anak-anak muda itu tidak begitu saja bisa bermain sepak bola. Ada orang-orang seperti Arifin Panara yang sudah puluhan tahun tekun melatih anak-anak di Alor secara suka rela, demi sepak bola.

Berjumpa dan mengobrol soal sepak bola dengan Pak Arifin ini kalau diladeni bisa tidak selesai dalam 3 hari 3 malam. Dia begitu antusias menceritakan potensi anak-anak Alor dalam mengolah si kulit bundar. Di sela-sela kesibukannya sebagai PNS di Dispora Kabupaten Alor, setiap sore Pak Arifin mengganti seragam PNS-nya dengan kostum olah raga lengkap dengan stop watch dan peluit, lalu mengkomandoi sekitar 30-an anak usia belasan tahun di lapangan kota Kalabahi untuk latihan sepak bola. Kegiatan ini sudah dia lakukan sejak dulu saat dia masih menjabat sebagai lurah di Kalabahi, satu-satunya kota di Pulau Alor. Tanpa kenal lelah dia memberikan waktu, tenaga dan kadang merogoh kocek sendiri agar anak-anak asuhnya bisa latihan terus secara gratis.

Salah satu anak didiknya yang sukses menembus seleksi dan memperkuat Timnas U19 adalah Yabes Roni Malaifani. Keberangkatan Yabes pada waktu seleksi dulu juga penuh drama. Di antara anak-anak asuhannya, Pak Arifin memilih 4 anak untuk di bawa ke Kupang, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur yang waktu itu kedatangan pelatih U19, Indra Sjafri. Menjelang seleksi Pak Arifin sampai di Kupang lebih dulu untuk mengikuti coaching clinic yang diberikan Indra Sjafri. Tapi naas, pada saat anak-anak asuhnya mau berangkat naik ferry dari Pulau Alor ke Kupang, mendadak cuaca tidak bersahabat, langit gelap, ombak meninggi dan ferry pun batal berangkat.

Pak Arifin tidak ingin kesempatan seleksi yang sudah di depan mata itu lepas. Dia pun meminta secara khusus pada Indra Sjafri untuk menunda kepulangannya ke Jawa, agar bisa melihat anak-anak asuhnya dari Alor. Padahal Indra Sjafri sudah memegang tiket pesawat untuk bertolak dari Kupang esok paginya. Tapi rupanya Pak Arifin berhasil meyakinkan coach timnas itu. Indra merobek tiket pesawatnya, sambil berucap, “Oke, saya tunggu anak-anak dari Alor,”

Pak Arifin pun menghubungi kenalannya, Daeng Amir, seorang pemilik toko di Kalabahi yang tergerak membantu mengusahakan tiket pesawat untuk keberangkatan anak-anak itu. Daeng Amir ini juga cinta mati pada sepak bola. Di masa mudanya dulu, saat tinggal di Dili, dia pernah memperkuat squad Timor Leste (ketika itu masih Timor Timur, sebelum referendum 1999). Maka berangkatlah Yabes dengan 3 temannya ke Kupang untuk mengikuti seleksi, naik pesawat. Namanya juga baru pertama kali naik pesawat, Yabes sempat deg-degan saat pesawat baling-baling yang mengangkut sempat mengalami mati mesin menjelang take off. Di atas pesawat tak henti-hentinya anak-anak Alor ini berdoa untuk keselamatan penerbangan mereka. Akhirnya, mereka tiba dengan selamat di Kupang.

Selama beberapa hari di Kupang, Indra Sjafri sudah lebih dulu menseleksi sekitar 400-an remaja dan hanya mengambil 1 orang pemain saja dari Kupang. Tibalah hari dimana anak-anak dari Alor ini berlaga. Ketika Indra Sjafri melihat permainan anak-anak dari Alor yang berlaga di Stadion Oepoi ini, dia berkata pada Pak Arifin, “Apa yang saya cari ada di Alor,”

Tanpa diduga, coach Indra memilih 3 anak dari Alor untuk dibawa memperkuat timnas U19. Kemudian dari ketiga anak tersebut ada yang dipulangkan karena cidera ankle cukup parah, dan satu lagi usianya masih terlalu muda jadi dipindahkan ke timnas U17, hingga tinggal Yabes seorang dari Alor yang masih di tim U19 hingga kini. Tentu kehadirannya mengharumkan nama Pulau Alor. Kini setiap kali Yabes pulang kampung, setiap orang yang dijumpainya selalu memanggil namanya, minta foto bareng dan lain-lain. Tak banyak orang menyadari, bahwa di balik kesuksesan Yabes Roni, terdapat sosok Pak Arifin, the unsung hero.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar