Tribun Sumsel/Haryanto Kurusetra
TRIBUNNEWS.COM
- Dua minggu terakhir, pecinta sepakbola khususnya Sriwijaya FC di
Palembang dikejutkan dengan pemberitaan yang cukup menggembirakan bahwa
12 pemain dari skuad SFC U21 dipilih oleh PSSI untuk tergabung dalam Timnas Indonesia U-21 yang dipersiapkan untuk bermain di Cotif Tournament Spanyol bersama tim-tim besar seperti Argentina, Brasil dan Barcelona pertengahan Agustus nanti.
Pro
dan kontra pun bermunculan terkait pembentukan Timnas U21 yang terkesan
sangat mendadak dan dianggap hanya sebagai tim ‘dadakan’ karena Timnas Indonesia U-19 yang semestinya turun di Cotif Tournament akhirnya dipindahkan dan seperti turun kelas dengan cuma mengikuti Hasanah Bolkiah Tournament (HBT) di Brunei.
Bak
seorang intelejen handal, banyak masyarakat yang langsung mengemukakan
pendapatnya dan menyesalkan mengapa Timnas U19 ‘dikorbankan’. Benarkah
ada kepentingan lain d balik pembatalan keikutsertaan Evan Dimas cs ke Spanyol?
Di atas kertas, bertemu Argentina dan Barcelona memang akan jauh lebih memberikan pengalaman berharga ketimbang Malaysia, Singapura, Vietnam atau Brunei yang sudah sering dihadapi oleh Timnas U19.
Benarkah ada kepentingan ‘bisnis’ di balik semua ini? Meskipun pelatih Indra Sjafri sudah memberikan pernyataannya, namun masyarakat sudah terlanjur kecewa dan memiliki pandangan yang berbeda.
Benarkah juga ‘hak siar’ adalah penyebab pembatalan yang sangat mendadak ini?
Televisi swasta yang sejak setahun belakangan menayangkan seluruh laga
Timnas U19 selama Tur Nusantarakeberatan karena laga di Cotif Tournament
akan disiarkan oleh kompetitornya.
Namun, apapun teori dan
pendapat yang sudah berkembang tidak akan menjadi pembahasan detail.
Justru ada sebuah ‘ketidakadilan’ yang diterima oleh punggawa Timnas
U21.
Memang harus diakui dari sisi apapun, cukup sulit menggantikan peran
Timnas U19 yang sejak setahun terakhir mengkilap prestasinya dan menjadi
salah satu kebanggaan masyarakat Indonesia.
Tapi rasanya, sudah cukup bangsa ini pernah saling
berbeda pandangan ketika konflik sepakbola antara PSSI – KPSI beberapa
tahun lalu. Sejarah kelam dimana negeri ini hampir terpecah saat adanya
kepentingan dua kelompok yang berbeda dalam memperebutkan tampuk
kepimpinan organisasi tertinggi sepakbola di tanah air, yakni PSSI.
Timnas U19 saat ini harus didukung penuh di tengah persiapan jelang Piala Asia Oktober mendatang. Namun bukan berarti pembentukan Timnas U21 adalah sebuah kesalahan.
Sebanyak 18 pemain yang saat ini tengah bertanding di Cotif
Tournament Spanyol juga akan membawa nama bangsa dan berjuang untuk
Merah Putih.
Sebenarnya, menggantikan Timnas U19 di Spanyol juga
pertaruhan yang sangat besar dan beresiko, terutama bagi mayoritas
pemain SFC U21 yang minim pengalaman di level internasional.
Jika hitungannya adalah untung dan rugi, tentu bukanlah sebuah keputusan yang bijak mengirimkan tim dengan persiapan super minim dan akan menghadapi tim raksasa dunia.
Namun
ibarat dalam sebuah peperangan, para pemain Timnas U21 merupakan
prajurit yang bertindak karena mendapat perintah dari komandannya dalam
hal ini PSSI.
Mereka diminta dan ditunjuk, bukan mengemis. Dan sampai ada juara
baru di akhir musim nanti, SFC U21 tetap merupakan juara bertahan ISL
U21 yang tetap layak diberikan respect.
Para pemain tidak
berpikir ada hal-hal lain di balik polemik semua ini. Yang mereka tahu
hanyalah sebuah kebanggaan bermain dengan Garuda Di Dadanya dan berjuang untuk kehormatan bangsa.
Meski tahu akan berada 1 lapangan dengan tim sekelas Argentina dan Barcelona, para pemain hanya berpikir bahwa kehormatan negara ini tetap harus berjaga. Tidak boleh ada kata Menyerah Sebelum Bertanding. Pilihannya hanya satu, Maju dan Berjuang !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar