Selasa, 20 Mei 2014

Memaknai Kekalahan Dalam Uji Coba


Coachindrasjafri.com - Apa kabar Evan Dimas dkk setelah kekalahan dari timnas Myanmar U-19? Tanyakan pada para pemain, dan  mereka akan menjawab: “Kami baik-baik saja.” Paling tidak itu kesan yang didapat dari coach Guntur, pelatih mental Timnas U-19 saat menjawab pertanyaan soal pasca kekalahan Timnas U-19 dari Myanmar. Menurutnya, kekalahan adalah bagian dari proses karena perjuangan yang sebenarnya adalah saat di putaran final Piala Asia 2014.

Setelah uji coba terakhir dengan Timnas Myanmar U-19 yang berakhir dengan kekalahan kedua 1-2, Timnas U-19 terus berbenah. Segala hal yang menjadi kelemahan dicatat dan diperbaiki terutma taktik menghadapi lawan yang berbeda karakter dari yang biasa dihadapi. “Semua aspek langsung ditunjukkan di depan pemain termasuk taktik,” ujar Coach Guntur.

Beberapa hal yang disorot oleh tim pelatih adalah soal kontrol emosi. Hal ini juga menjadi concern Ketua BTN La Nyala Mataliti. Beberapa pemain ternyata masih belum bisa mengontrol emosinya saat mendapat provokasi dari pemain lawan  Mungkin jarangnya mereka menghadapi situasi kompetisi yang sebenarnya yang membuat pemain masih kurang terasah dari sisi ini. Itulah sebabnya coach Guntur saat ini banyak menitikberatkan pada factor mental. “Sebagus apapun seorang pemain, kalau mentalnya labil maka permainannya akan mudah terganggu.”

Kekalahan yang mereka alami pun tidak lantas membuat pemain dan tim pelatih terluka. Mereka tetap menganggap dalam setiap pertandingan uji coba hasil tidaklah terlalu diutamakan tapi bagaimana pemain dan pelatih bisa mengevaluasi setiap game yang mereka mainkan. Jangankan kalah, menang pun tetap harus dievaluasi. Jadi kalau ada anggapan bahwa pemain dan official timnas U-19 terpukul karena kekalahan dalam uji coba terkahir adalah keliru. “Semua pemain sangat santai dan tidak terbebani kekalahan.” Ujar coach Guntur lagi.

Uji coba timnas U-19 melawan Myanmar sebetulnya menjadi berbeda maknanya mengingat lawan-lawan yang dihadapi di putaran final PIala Asia nanti berasal dari kultur sepak bola yang berbeda dengan Myanmar. Uni Emirat Arab misalnya. Lawan yang dua kali dikalahkan di Dubai memiliki warna sepak bola yang dipengaruhi gaya Amerika Latin. Sedangkan Uzbekistan dan Australia memiliki tipikal permainan khas Eropa.

Meski Myanmar memiliki tipe permainan yang berbeda uji coa ini tidaklah sia-sia. Bagaimanapun Timnas U-19 harus siap menghadapi semua tipe permainan serta taktik yang berbeda dari berbagai negara. Hal ini penting agar mereka siap dengan segala situasinya karena pada saatnya nanti mereka mereka akan menghadapi pembuktian atas jerih payah mereka berlatih selama ini.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar