ist
Goal.com - Timnas Indonesia U-19 dua hari lagi bakal memulai perjuangan mereka di Piala Asia U-19 2014 Myanmar. Itu seakan meretas kembali jalan untuk menjadi juara seperti yang pernah ditorehkan skuat Merah Putih pada Piala Asia U-19 1961 di Bangkok, Thailand.
Ya, Indonesia pernah menjadi juara meski harus dibagi dua dengan Burma (saat ini Myanmar). Salah satu pelaku sejarah
yang masih hidup adalah mantan Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy. Bob
yang saat itu menjabat sebagai kapten tim menceritakan pengalamannya
bisa menggenggam juara Piala Asia.
Bob bercerita, ketika itu timnas U-19 dilatih oleh Toni Pogacnik yang
didampingi oleh Djamiat Dalhar dan Maulwi Saelan. Bob mengenang, pada
saat itu proses persiapan yang dilakukan untuk ajang tersebut sekitar 1
tahun delapan bulan. Pemusatan latihan nasional (pelatnas) digelar di Jakarta.
"Pogacnik sangat keras dan disiplin dalam melatih. Kami diwajibkan
semir sepatu sendiri kalau tidak ya tidak boleh ikut latihan atau
pertandingan. Karena dia beranggapan sepatu seperti senjata ketika kita
sedang perang," ujar Bob.
Pria kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, 5 Desember 1945 ini
menambahkan, salah satu ciri pemain terpilih menjadi skuat timnas yang
berangkat ke Bangkok adalah apabila sudah diminta untuk mengukur baju
timnas.
Singkat cerita, Bob memaparkan selama turnamen tersebut, para pemain setiap hari mengkonsumsi cokelat dan madu. Menyusul, jadwal pertandingan yang sangat padat.
"Cokelat untuk menambah energi, sementara madu untuk daya tahan tubuh," jelasnya.
"Cokelat untuk menambah energi, sementara madu untuk daya tahan tubuh," jelasnya.
Mengenai skema yang diterapkan Pogacnik saat itu, belum ada pola yang
disebut dengan angka seperti 4-4-2, 3-4-3, atau 3-4-1-2, seperti
sekarang. Tapi disebut dengan huruf. “Formasinya namanya 'W M' karena
jika digambarkan membentuk kedua huruf itu," paparnya.
Indonesia yang diperkuat nama-nama seperti Ipong Silalahi, Andjiek
Alinurdin, serta Idris Mappakaja, melangkah dengan mulus di turnamen
tersebut. Pada fase grup, Indonesia yang tergabung di grup A bersama
Korea Selatan, Vietnam, Singapura, dan Jepang, keluar sebagai juara
grup. Karena dalam regulasinya setiap juara grup langsung lolos ke
partai final, maka Indonesia bertemu dengan Burma yang menjadi juara
grup B.
Menariknya, ketika dalam waktu 2x45 menit kedua tim bermain imbang
0-0, tiba-tiba Raja Thailand saat itu Bhumibol Adulyadej memutuskan
untuk menjadikan Indonesia dan Burma sebagai juara bersama. "Padahal,
kami sudah siap-siap untuk perpanjangan waktu atau adu penalti. Raja
Thailand kasihan melihat kedua tim yang sudah berjuang mati-matian, jadi
biar tidak ada yang kecewa dijadikan juara bersama, dan tidak ada yang
bisa membantahnya," tutur Bob.
Otomatis, medali juara pun dibagi dua dengan Burma. Sehingga ada para
pemain Indonesia terutama yang cadangan tidak mendapatkan medali. "Saya
baru menemukan kembali medali saya yang sempat hilang sekitar tiga
tahun lalu. Setelah pulang ke Jakarta, kami disambut dengan meriah.
Bahkan, di Bangkok kami dijamu oleh Presiden Soekarno yang kebetulan
sedang di sana dan dikasih uang masing-masing 15 dollar AS."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar