VIVAbola -
Dalam beberapa kesempatan setelah laga di Tur Spanyol, Pelatih Timnas
Indonesia U-19, Indra Sjafri, mengungkapkan PR (pekerjaan rumah) yang
masih dimiliki timnya. Koordinasi pertahanan dan penyelesaian akhir
lini depan menjadi PR skuad Garuda Jaya.
Menurut Indra, ketika gawang timnya kebobolan, hal itu tak serta-merta kesalahan para pemain belakang. Indra berpendapat, aliran bola dari depan juga turut berpengaruh.
Timnas U-19 akan berangkat ke Myanmar pada 5 Oktober 2014 untuk mengikut Piala Asia 2014. PR Evan Dimas dan kawan-kawan pun diharapkan bisa teratasi ketika tampil di Myanmar.
"Tentu tak secepat yang dibayangkan, jangan dipikir pertahanan kurang bagus, terus tiga kali latihan jadi bagus," ungkap Indra kepada VIVAbola, Jumat 3 Oktober 2014.
"Di sepakbola, Kita tidak bisa mengevaluasi defence hanya karena pemain belakang salah, belum tentu. Dalam fefence, aliran bola dari depan juga andil. Coba bola tidak pernah ke belakang, kan tak kebobolan," lanjutnya.
Sementara itu, terkait penyelesaian akhir yang juga menjadi PR Garuda Jaya, Indra menganggap itu masalah skill. Namun, pelatih asal Sumatera Barat itu mencoba mengakalinya dengan mengejar fisik, sebab perbaikan skill di usia pemain saat ini sudah sulit dilakukan.
"Kalau penyelesaian akhir, soal skill lah. Skill tidak bisa dibuat 1-2 hari. Kenapa saya kejar fisiknya, karena fisik yang paling cepat dibuat. Kalau perbaiki skill tak mungkin," terangnya.
Menurut Indra, ketika gawang timnya kebobolan, hal itu tak serta-merta kesalahan para pemain belakang. Indra berpendapat, aliran bola dari depan juga turut berpengaruh.
Timnas U-19 akan berangkat ke Myanmar pada 5 Oktober 2014 untuk mengikut Piala Asia 2014. PR Evan Dimas dan kawan-kawan pun diharapkan bisa teratasi ketika tampil di Myanmar.
"Tentu tak secepat yang dibayangkan, jangan dipikir pertahanan kurang bagus, terus tiga kali latihan jadi bagus," ungkap Indra kepada VIVAbola, Jumat 3 Oktober 2014.
"Di sepakbola, Kita tidak bisa mengevaluasi defence hanya karena pemain belakang salah, belum tentu. Dalam fefence, aliran bola dari depan juga andil. Coba bola tidak pernah ke belakang, kan tak kebobolan," lanjutnya.
Sementara itu, terkait penyelesaian akhir yang juga menjadi PR Garuda Jaya, Indra menganggap itu masalah skill. Namun, pelatih asal Sumatera Barat itu mencoba mengakalinya dengan mengejar fisik, sebab perbaikan skill di usia pemain saat ini sudah sulit dilakukan.
"Kalau penyelesaian akhir, soal skill lah. Skill tidak bisa dibuat 1-2 hari. Kenapa saya kejar fisiknya, karena fisik yang paling cepat dibuat. Kalau perbaiki skill tak mungkin," terangnya.
"Skill pemain tak akan bisa ditingkatkan kalau sudah usia 20 tahun, kalau pun bisa paling hanya nol sekian persen," sambungnya.
Kemudian, Indra membahas mengenai bagaimana Barcelona membangun timnya sejak usia dini. Ketika di Tur Spanyol, Indra mengaku mendapat pengetahuan tambahan dari lawan yang dihadapi Timnas U-19.
"Skill dibentuk dari umur 6 tahun, kita diskusi sama youth manager tim Barcelona, katanya, mereka bentuk satu pemain itu dari umur 7-8 tahun sampai 20 tahun," bebernya.
"Di situ dia berlatih. Kita dapat comot-comot dari daerah saja sudah bagus, itu menandakan potensi Indonesia luar biasa," ujar dia.
Kemudian, Indra membahas mengenai bagaimana Barcelona membangun timnya sejak usia dini. Ketika di Tur Spanyol, Indra mengaku mendapat pengetahuan tambahan dari lawan yang dihadapi Timnas U-19.
"Skill dibentuk dari umur 6 tahun, kita diskusi sama youth manager tim Barcelona, katanya, mereka bentuk satu pemain itu dari umur 7-8 tahun sampai 20 tahun," bebernya.
"Di situ dia berlatih. Kita dapat comot-comot dari daerah saja sudah bagus, itu menandakan potensi Indonesia luar biasa," ujar dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar