Detik.com - Jakarta, Prestasi tim nasional U-19 turut mendongkrak
gairah para pemain cilik untuk lebih tekun mengasah kemampuan. Nyatanya,
mereka menyebut sederet pemain timnas U-19 sebagai pemain idola.
Mengalahkan Korea Selatan seolah menjadi sebuah mitos yang terlanjur dipercaya. Senyum simpul sambil menuding foto Indra Sjafri dan bergumam "kepedean", "sombong" dan sejenisnya masih terucap hingga beberapa jam menjelang duel Indonesia versus Korea Selatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 12 Oktober tahun lalu.
Tak hanya publik, tak sedikit wartawan yang meragukan polesan Indra sehari menjelang pertempuran di kualifikasi AFC Cup U-19 itu. Tak sedikit media yang menyerah lebih dulu dengan menghitung kans Indonesia ke putaran final hanya dari runner-up terbaik dari enam tim yang ada.
Namun, Indra memberikan jawaban lain. Racikan dia mematahkan mitos itu. Hat-trick Evan Dimas Darmono memastikan langkah "Garuda Muda" ke putaran final.
Jauh sebelum tampil di SUGBK, timnas U-19 sudah bikin heboh. Sejak laga perdana Piala AFF di Gelora Delta, Sidoarjo, mereka sudah jadi perhatian. Jersey timnas yang "ori" ataupun "kw" menjadi kostum wajib pakai. Tiket sold out setiap hari, bahkan sempat terjadi kericuhan karena calon penonton tak kebagian tiket.
Di ajang itu pula Evan tak sekadar memberikan harapan palsu. Mereka mematahkan kutukan runner-up yang sudah kadung lekat kepada timnas. Setelah 22 tahun timnas jadi juara.
Kini para pemain muda usia, mereka yang tampil dalam sebuah festival sepakbola usia 10-12 tahun bertajuk AQUA Danone Nation Cup mempunyai sosok idola yang lebih dekat. Pemain idola yang juga makan nasi dan berbahasa Indonesia. Pemain idola yang orang tuanya berprofesi tidak jauh berbeda dengan orang tua mereka.
Mengalahkan Korea Selatan seolah menjadi sebuah mitos yang terlanjur dipercaya. Senyum simpul sambil menuding foto Indra Sjafri dan bergumam "kepedean", "sombong" dan sejenisnya masih terucap hingga beberapa jam menjelang duel Indonesia versus Korea Selatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 12 Oktober tahun lalu.
Tak hanya publik, tak sedikit wartawan yang meragukan polesan Indra sehari menjelang pertempuran di kualifikasi AFC Cup U-19 itu. Tak sedikit media yang menyerah lebih dulu dengan menghitung kans Indonesia ke putaran final hanya dari runner-up terbaik dari enam tim yang ada.
Namun, Indra memberikan jawaban lain. Racikan dia mematahkan mitos itu. Hat-trick Evan Dimas Darmono memastikan langkah "Garuda Muda" ke putaran final.
Jauh sebelum tampil di SUGBK, timnas U-19 sudah bikin heboh. Sejak laga perdana Piala AFF di Gelora Delta, Sidoarjo, mereka sudah jadi perhatian. Jersey timnas yang "ori" ataupun "kw" menjadi kostum wajib pakai. Tiket sold out setiap hari, bahkan sempat terjadi kericuhan karena calon penonton tak kebagian tiket.
Di ajang itu pula Evan tak sekadar memberikan harapan palsu. Mereka mematahkan kutukan runner-up yang sudah kadung lekat kepada timnas. Setelah 22 tahun timnas jadi juara.
Kini para pemain muda usia, mereka yang tampil dalam sebuah festival sepakbola usia 10-12 tahun bertajuk AQUA Danone Nation Cup mempunyai sosok idola yang lebih dekat. Pemain idola yang juga makan nasi dan berbahasa Indonesia. Pemain idola yang orang tuanya berprofesi tidak jauh berbeda dengan orang tua mereka.
"Saya ngefans sama (Lionel Messi). Kalau pemain lokal saya sangat senang
dengan Ilham Udin (Armaiyn). Mainnya bagus. Doakan ya, saya bisa masuk
timnas kayak dia," kata Kusnun dari SSB Persiba Bantul yang jadi juara
regional Jawa Tengah.
Senada, Risqul Hakim pun ngefans berat kepada Evan Dimas selain Christian Gonzales.
"Mereka itu fisiknya kuat. Kalau bikin gol enggak ragu-ragu," kata Risqul.
Fenomena itu, menurut pelatih SSB Persiba, Rifqi Hadiyanto, memang tak bisa dimungkiri karena faktor kedekatan.
"Sejak U-19 membuat sebuah gebrakan terlihat gairah yang berbeda di anak-anak ini. Apalagi dari DIY ada tiga pemain yang ikut seleksi, itu benar-benar menjadi contoh riil buat mereka," kata Rifqi.
Saat ini di Jakarta sudah berkumpul 16 tim terpilih dari 32 provinsi untuk bertarung di final nasional AQUA DNC, yang akan digelar di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, 7-8 Juni. Yang juara yang mewakili Indonesia di final dunia DNC di Brasil pada bulan Oktober, dan dilatih Jacksen F. Tiago.
Senada, Risqul Hakim pun ngefans berat kepada Evan Dimas selain Christian Gonzales.
"Mereka itu fisiknya kuat. Kalau bikin gol enggak ragu-ragu," kata Risqul.
Fenomena itu, menurut pelatih SSB Persiba, Rifqi Hadiyanto, memang tak bisa dimungkiri karena faktor kedekatan.
"Sejak U-19 membuat sebuah gebrakan terlihat gairah yang berbeda di anak-anak ini. Apalagi dari DIY ada tiga pemain yang ikut seleksi, itu benar-benar menjadi contoh riil buat mereka," kata Rifqi.
Saat ini di Jakarta sudah berkumpul 16 tim terpilih dari 32 provinsi untuk bertarung di final nasional AQUA DNC, yang akan digelar di Stadion Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, 7-8 Juni. Yang juara yang mewakili Indonesia di final dunia DNC di Brasil pada bulan Oktober, dan dilatih Jacksen F. Tiago.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar