Selasar.com - Tak
bisa dipungkiri, sepakbola adalah olahraga yang paling populer di tanah
air. Popularitasnya melintasi kelas sosial-ekonomi dan latar belakang
budaya. Sayang, kendati antusiasme masyarakat terhadap olahraga yang
satu ini sangat tinggi, prestasi yang menggembirakan dari tim nasional
sepakbola kita tak kunjung datang.
Di
tengah kelabunya prestasi sepakbola Indonesia di tingkat senior, kini
muncul harapan baru dalam diri Tim Nasional U-19 (Timnas U-19). Tentu
kita ingat bagaimana Timnas U-19 berhasil lolos ke putaran final Piala
Asia U-19 di Myanmar tahun ini dengan melakukan aksi “sapu bersih” di
babak penyisihan grup. Dari tiga partai yang dimainkan, semuanya mereka
menangkan termasuk ketika melawan raksasa sepakbola Asia, Korea Selatan.
Hasil ini mereka raih setelah sebelumnya menjuarai Piala AFF U-19 tahun
2013. Yang terkini, dalam tur uji cobanya ke Timur Tengah, Evan Dimas
dkk sejauh ini sukses menorehkan hasil yang meyakinkan.
Apa
kunci sukses Timnas U-19? John C. Maxwell pernah menulis tentang hukum
katup dalam “21 Irrefutable Laws of Leadership”. Intinya, kepemimpinan
adalah “katup” yang menentukan bagaimana potensi sebuah tim dapat
mengalir. Tim yang sangat potensial namun tidak dipimpin dengan baik,
tidak akan mampu memproduksi hasil yang optimal. Kepemimpinan pelatih
Indra Sjafri tidak dapat dipungkiri adalah faktor krusial suksesnya
Timnas U-19.
Coach Indra terlihat menerapkan apa yang oleh Pelatih Tim American Football Denver Broncos,
Ted Sundquist, disebut sebagai resep “fudes”. Resep Ted ini diulas
dalam sebuah artikel bisnis di majalah Time. “Fudes” merupakan akronim
dari Focus, Unity, Direction, Excellence dan Success.
Rasanya
kita tidak menemukan hingga saat ini ada bintang Timnas U-19 menjadi
bintang iklan, pemberitaan media yang tak bisa dipungkiri sudah membuat
mereka terkenal direspon dengan tidak berlebihan. Mereka terus fokus
pada visi tim untuk meraih prestasi. Indra Sjafri sendiri menyatakan
dalam sebuah wawancara dengan BBC Indonesia bahwa dirinya dengan tegas
menolak tawaran iklan yang datang kepada anak asuhnya.
Timnas U-19 juga merupakan tim dengan unity,
semua anggota tim tahu tim mereka akan mengarah kemana dan dengan cara
apa mereka akan ke sana sehingga dipersatukan oleh visi yang sama. Hal
ini karena sejak awal tim sudah memiliki direction yang jelas.
Untuk saat ini contohnya, seluruh energi Timnas U-19 diarahkan untuk
meraih posisi empat besar Piala Asia U-19 tahun 2014 agar bisa lolos ke
Piala Dunia U-20 tahun depan.
Soal excellence, tentu kita tahu bagaimana Coach Indra
“blusukan” untuk mencari anggota timnya ke berbagai penjuru tanah air.
Di tengah ketiadaan kompetisi kelompok umur yang memadai sebagai
infrastruktur untuk membentuk tim nasional junior, dia tak segan bekerja
extra miles demi meraih hasil yang terbaik. Menurut Ted Sundquist, excellence juga dilihat dari bagaimana sebuah tim menerapkan standar. Coach
Indra dikenal memiliki standar yang tinggi bagi timnya. Ia selalu
menuntut timnya untuk berjuang meraih kemenangan meskipun lawan yang
dihadapi berada pada posisi yang lebih diunggulkan. Akhirnya, bila semua
hal di atas dilakukan secara konsisten, menurut Ted, mereka akan
menuntun sebuah tim pada kesuksesan.
Sekarang, mari kita berharap agar Timnas U-19 bisa terus konsisten sampai nanti sukses di pentas dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar