Sabtu, 19 April 2014

Pelajaran Kepemimpinan dari U-19


Selasar.com - Tak bisa dipungkiri, sepakbola adalah olahraga yang paling populer di tanah air. Popularitasnya melintasi kelas sosial-ekonomi dan latar belakang budaya. Sayang, kendati antusiasme masyarakat terhadap olahraga yang satu ini sangat tinggi, prestasi yang menggembirakan dari tim nasional sepakbola kita tak kunjung datang. 

Di tengah kelabunya prestasi sepakbola Indonesia di tingkat senior, kini muncul harapan baru dalam diri Tim Nasional U-19 (Timnas U-19). Tentu kita ingat bagaimana Timnas U-19 berhasil lolos ke putaran final Piala Asia U-19 di Myanmar tahun ini dengan melakukan aksi “sapu bersih” di babak penyisihan grup. Dari tiga partai yang dimainkan, semuanya mereka menangkan termasuk ketika melawan raksasa sepakbola Asia, Korea Selatan. Hasil ini mereka raih setelah sebelumnya menjuarai Piala AFF U-19 tahun 2013. Yang terkini, dalam tur uji cobanya ke Timur Tengah, Evan Dimas dkk sejauh ini sukses menorehkan hasil yang meyakinkan.

Apa kunci sukses Timnas U-19? John C. Maxwell pernah menulis tentang hukum katup dalam “21 Irrefutable Laws of Leadership”. Intinya, kepemimpinan adalah “katup” yang menentukan bagaimana potensi sebuah tim dapat mengalir. Tim yang sangat potensial namun tidak dipimpin dengan baik, tidak akan mampu memproduksi hasil yang optimal. Kepemimpinan pelatih Indra Sjafri tidak dapat dipungkiri adalah faktor krusial suksesnya Timnas U-19. 

Coach Indra terlihat menerapkan apa yang oleh Pelatih Tim American Football Denver Broncos, Ted Sundquist, disebut sebagai resep “fudes”. Resep Ted ini diulas dalam sebuah artikel bisnis di majalah Time. “Fudes” merupakan akronim dari Focus, Unity, Direction, Excellence dan Success. 

Rasanya kita tidak menemukan hingga saat ini ada bintang Timnas U-19 menjadi bintang iklan, pemberitaan media yang tak bisa dipungkiri sudah membuat mereka terkenal direspon dengan tidak berlebihan. Mereka terus fokus pada visi tim untuk meraih prestasi. Indra Sjafri sendiri menyatakan dalam sebuah wawancara dengan BBC Indonesia bahwa dirinya dengan tegas menolak tawaran iklan yang datang kepada anak asuhnya. 

Timnas U-19 juga merupakan tim dengan unity, semua anggota tim tahu tim mereka akan mengarah kemana dan dengan cara apa mereka akan ke sana sehingga dipersatukan oleh visi yang sama. Hal ini karena sejak awal tim sudah memiliki direction yang jelas. Untuk saat ini contohnya, seluruh energi Timnas U-19 diarahkan untuk meraih posisi empat besar Piala Asia U-19 tahun 2014 agar bisa lolos ke Piala Dunia U-20 tahun depan. 

Soal excellence, tentu kita tahu bagaimana Coach Indra “blusukan” untuk mencari anggota timnya ke berbagai penjuru tanah air. Di tengah ketiadaan kompetisi kelompok umur yang memadai sebagai infrastruktur untuk membentuk tim nasional junior, dia tak segan bekerja extra miles demi meraih hasil yang terbaik. Menurut Ted Sundquist, excellence juga dilihat dari bagaimana sebuah tim menerapkan standar. Coach Indra dikenal memiliki standar yang tinggi bagi timnya. Ia selalu menuntut timnya untuk berjuang meraih kemenangan meskipun lawan yang dihadapi berada pada posisi yang lebih diunggulkan. Akhirnya, bila semua hal di atas dilakukan secara konsisten, menurut Ted, mereka akan menuntun sebuah tim pada kesuksesan. 

Sekarang, mari kita berharap agar Timnas U-19 bisa terus konsisten sampai nanti sukses di pentas dunia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar