Minggu, 20 April 2014

Menjaga Garuda Muda


Harian Bola - Persiapan yang baik adalah setengah langkah dari kemenangan di pertandingan.

Pernah mendengar nasihat menuju kesuksesan ini? Atau, bagaimana dengan ini: Tetaplah fokus terhadap tujuan yang Anda tetapkan dan lakukan hal itu setiap hari.
Banyak cara untuk mengatakan bahwa tanpa persiapan yang baik, target yang ditetapkan atau tujuan yang diharapkan sulit tercapai. Lalu, untuk apa membuang waktu selama persiapan bila ketika waktunya tiba untuk unjuk kemampuan kita tak bisa melakukannya dengan baik?
Dalam sebuah acara televisi, saya pernah mendengar kesaksian dari seseorang yang sukses dalam mencapai impiannya. 
Katanya begini, “Kunci kesuksesan saya adalah tetap fokus pada pikiran dan kesadaran saya akan keinginan atau target yang saya tetapkan.”
Catatan pertama saya, ia tahu apa yang diinginkannya. 
Lalu, ia melanjutkan ucapannya, “Fokuslah pada apa yang kita inginkan, bukan pada hal-hal yang membuat kita khawatir atau menakutkan.”
Catatan kedua, ia menghindarkan dirinya dari ketakutan akan kegagalan. Ia memusatkan perhatian pada target yang membuat hidupnya bergairah setiap hari.
Sederhana? Ya, untuk dituliskan dan diucapkan. Tapi, untuk diwujudkan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tak akan semulus ucapan karena begitu banyak faktor pembelok perhatian.
Ancaman terhadap godaan untuk berbelok dari tujuan atau target yang ditetapkan inilah yang saya tangkap dari bincang-bincang singkat dengan Ketua Badan Tim Nasional, La Nyalla Mattalitti, di kantor PSSI beberapa waktu lalu.
Tatap muka langsung dengan pria asal Sulawesi Selatan kelahiran 10 Mei 1959 itu adalah yang pertama saya lakukan sejak ia masuk ke dalam lingkaran dalam federasi sepak bola di Tanah Air, baik sebagai Wakil Ketua Umum PSSI atau Ketua BTN.
Ada beberapa hal buah pikirannya yang menarik perhatian saya. Selain ucapan¬nya untuk tetap ogah menerima bantuan pemerintah dalam menjalankan PSSI, juga luapan emosinya terhadap situasi yang tercipta belakangan ini di tim nasional U-19.
Ketika menemani Evan Dimas dkk. menjalani umrah dan melakukan uji coba di Timur Tengah, La Nyalla Mattalittimengaku “meledak”. Tak hanya kepada pemain, ia juga tak menutupi meluapkan kritikan terhadap pelatih.
“Target yang saya tetapkan untuk timnas U-19 adalah tampil di Piala Dunia U-20 tahun depan. Tapi, saya melihat tim ini terlalu banyak disanjung dan menjalani kegiatan di luar persiapan untuk itu,” katanya.
Dengan mimik muka tegas dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, ia menegaskan Evan Dimas dkk. belum mencapai apa-apa. Seluruh persiapan yang dilakukan BTN untuk mereka adalah demi meraih gelar juara di kompetisi Piala AFC U-19 2014 atau minimal mencapai empat besar yang menyediakan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.
***
Saya sepakat dengan La Nyalla Mattalitti bahwa pemberitaan atau sanjungan terhadap Indra Sjafri dan pasukan¬nya saat ini bisa menjadi pembelok fokus perhatian atau target yang diberikan kepada mereka.
Saya pun setuju bahwa kemunculan buku, bahkan berjumlah tiga buah, mengenai Tim Garuda U-19, entah itu pelatih atau tim secara keseluruhan, tergolong lebay alias berlebihan.
Acuannya jelas, tim ini dipersiapkan untuk berprestasi di Piala AFC U-19, level yang lebih tinggi dari keberhasilan mereka menjuarai ajang sekelas di wilayah Asia Tenggara.
Namun, tak seorang pun dari pengurus federasi dan BTN bisa menghambat derasnya harapan masyarakat terhadap Evan Dimas dkk. Yang bisa mereka lakukan adalah mengontrol dan menjaga tim.
Saya punya sedikit pertanya¬an tersisa dari Piala AFF U-19: seandainya Australia tidak mengundurkan diri dari kejuaraan yang digelar di Jawa Timur itu, seperti apa sambutan masyarakat terhadap Tim Garuda Jaya?
Akan lebih baik bila target ke Piala Dunia 2015 adalah impian para pemain, bukan semata ambisi pengurus. Dengan begitu, segala latihan dan persiapan yang diberikan tim pelatih akan dengan mudah diterima para pemain.
Semoga pasukan Garuda Muda tetap dapat memfokus¬kan perh
Pernah mendengar nasihat menuju kesuksesan ini? Atau, bagaimana dengan ini: Tetaplah fokus terhadap tujuan yang Anda tetapkan dan lakukan hal itu setiap hari.

Banyak cara untuk mengatakan bahwa tanpa persiapan yang baik, target yang ditetapkan atau tujuan yang diharapkan sulit tercapai. Lalu, untuk apa membuang waktu selama persiapan bila ketika waktunya tiba untuk unjuk kemampuan kita tak bisa melakukannya dengan baik?

Dalam sebuah acara televisi, saya pernah mendengar kesaksian dari seseorang yang sukses dalam mencapai impiannya. 
Katanya begini, “Kunci kesuksesan saya adalah tetap fokus pada pikiran dan kesadaran saya akan keinginan atau target yang saya tetapkan.”
Catatan pertama saya, ia tahu apa yang diinginkannya. 
Lalu, ia melanjutkan ucapannya, “Fokuslah pada apa yang kita inginkan, bukan pada hal-hal yang membuat kita khawatir atau menakutkan.”
Catatan kedua, ia menghindarkan dirinya dari ketakutan akan kegagalan. Ia memusatkan perhatian pada target yang membuat hidupnya bergairah setiap hari.
Sederhana? Ya, untuk dituliskan dan diucapkan. Tapi, untuk diwujudkan atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tak akan semulus ucapan karena begitu banyak faktor pembelok perhatian.
Ancaman terhadap godaan untuk berbelok dari tujuan atau target yang ditetapkan inilah yang saya tangkap dari bincang-bincang singkat dengan Ketua Badan Tim Nasional, La Nyalla Mattalitti, di kantor PSSI beberapa waktu lalu.
Tatap muka langsung dengan pria asal Sulawesi Selatan kelahiran 10 Mei 1959 itu adalah yang pertama saya lakukan sejak ia masuk ke dalam lingkaran dalam federasi sepak bola di Tanah Air, baik sebagai Wakil Ketua Umum PSSI atau Ketua BTN.
Ada beberapa hal buah pikirannya yang menarik perhatian saya. Selain ucapannya untuk tetap ogah menerima bantuan pemerintah dalam menjalankan PSSI, juga luapan emosinya terhadap situasi yang tercipta belakangan ini di tim nasional U-19.
Ketika menemani Evan Dimas dkk. menjalani umrah dan melakukan uji coba di Timur Tengah, La Nyalla Mattalittimengaku “meledak”. Tak hanya kepada pemain, ia juga tak menutupi meluapkan kritikan terhadap pelatih.

“Target yang saya tetapkan untuk timnas U-19 adalah tampil di Piala Dunia U-20 tahun depan. Tapi, saya melihat tim ini terlalu banyak disanjung dan menjalani kegiatan di luar persiapan untuk itu,” katanya.
Dengan mimik muka tegas dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, ia menegaskan Evan Dimas dkk. belum mencapai apa-apa. Seluruh persiapan yang dilakukan BTN untuk mereka adalah demi meraih gelar juara di kompetisi Piala AFC U-19 2014 atau minimal mencapai empat besar yang menyediakan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.

***

Saya sepakat dengan La Nyalla Mattalitti bahwa pemberitaan atau sanjungan terhadap Indra Sjafri dan pasukannya saat ini bisa menjadi pembelok fokus perhatian atau target yang diberikan kepada mereka.
Saya pun setuju bahwa kemunculan buku, bahkan berjumlah tiga buah, mengenai Tim Garuda U-19, entah itu pelatih atau tim secara keseluruhan, tergolong lebay alias berlebihan.
Acuannya jelas, tim ini dipersiapkan untuk berprestasi di Piala AFC U-19, level yang lebih tinggi dari keberhasilan mereka menjuarai ajang sekelas di wilayah Asia Tenggara.

Namun, tak seorang pun dari pengurus federasi dan BTN bisa menghambat derasnya harapan masyarakat terhadap Evan Dimas dkk. Yang bisa mereka lakukan adalah mengontrol dan menjaga tim.
Saya punya sedikit pertanya¬an tersisa dari Piala AFF U-19: seandainya Australia tidak mengundurkan diri dari kejuaraan yang digelar di Jawa Timur itu, seperti apa sambutan masyarakat terhadap Tim Garuda Jaya?
Akan lebih baik bila target ke Piala Dunia 2015 adalah impian para pemain, bukan semata ambisi pengurus. Dengan begitu, segala latihan dan persiapan yang diberikan tim pelatih akan dengan mudah diterima para pemain.

Semoga pasukan Garuda Muda tetap dapat memfokuskan perhatian mereka untuk menorehkan prestasi, bukan dihantui kekhawatiran bila gagal memenuhi target yang diminta BTN. Karena, di pundak merekalah harapan dan masa depan sepak bola Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar