Harian Bola - Persiapan yang baik adalah setengah langkah dari kemenangan di pertandingan.
Pernah
mendengar nasihat menuju kesuksesan ini? Atau, bagaimana dengan ini:
Tetaplah fokus terhadap tujuan yang Anda tetapkan dan lakukan hal itu
setiap hari.
Banyak
cara untuk mengatakan bahwa tanpa persiapan yang baik, target yang
ditetapkan atau tujuan yang diharapkan sulit tercapai. Lalu, untuk apa
membuang waktu selama persiapan bila ketika waktunya tiba untuk unjuk
kemampuan kita tak bisa melakukannya dengan baik?
Dalam sebuah acara televisi, saya pernah mendengar kesaksian dari seseorang yang sukses dalam mencapai impiannya.
Katanya
begini, “Kunci kesuksesan saya adalah tetap fokus pada pikiran dan
kesadaran saya akan keinginan atau target yang saya tetapkan.”
Catatan pertama saya, ia tahu apa yang diinginkannya.
Lalu,
ia melanjutkan ucapannya, “Fokuslah pada apa yang kita inginkan, bukan
pada hal-hal yang membuat kita khawatir atau menakutkan.”
Catatan
kedua, ia menghindarkan dirinya dari ketakutan akan kegagalan. Ia
memusatkan perhatian pada target yang membuat hidupnya bergairah setiap
hari.
Sederhana?
Ya, untuk dituliskan dan diucapkan. Tapi, untuk diwujudkan atau
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tak akan semulus ucapan karena
begitu banyak faktor pembelok perhatian.
Ancaman
terhadap godaan untuk berbelok dari tujuan atau target yang ditetapkan
inilah yang saya tangkap dari bincang-bincang singkat dengan Ketua Badan
Tim Nasional, La Nyalla Mattalitti, di kantor PSSI beberapa waktu lalu.
Tatap
muka langsung dengan pria asal Sulawesi Selatan kelahiran 10 Mei 1959
itu adalah yang pertama saya lakukan sejak ia masuk ke dalam lingkaran
dalam federasi sepak bola di Tanah Air, baik sebagai Wakil Ketua Umum
PSSI atau Ketua BTN.
Ada
beberapa hal buah pikirannya yang menarik perhatian saya. Selain
ucapan¬nya untuk tetap ogah menerima bantuan pemerintah dalam
menjalankan PSSI, juga luapan emosinya terhadap situasi yang tercipta
belakangan ini di tim nasional U-19.
Ketika
menemani Evan Dimas dkk. menjalani umrah dan melakukan uji coba di
Timur Tengah, La Nyalla Mattalittimengaku “meledak”. Tak hanya kepada
pemain, ia juga tak menutupi meluapkan kritikan terhadap pelatih.
“Target
yang saya tetapkan untuk timnas U-19 adalah tampil di Piala Dunia U-20
tahun depan. Tapi, saya melihat tim ini terlalu banyak disanjung dan
menjalani kegiatan di luar persiapan untuk itu,” katanya.
Dengan
mimik muka tegas dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, ia
menegaskan Evan Dimas dkk. belum mencapai apa-apa. Seluruh persiapan
yang dilakukan BTN untuk mereka adalah demi meraih gelar juara di
kompetisi Piala AFC U-19 2014 atau minimal mencapai empat besar yang
menyediakan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.
***
Saya
sepakat dengan La Nyalla Mattalitti bahwa pemberitaan atau sanjungan
terhadap Indra Sjafri dan pasukan¬nya saat ini bisa menjadi pembelok
fokus perhatian atau target yang diberikan kepada mereka.
Saya
pun setuju bahwa kemunculan buku, bahkan berjumlah tiga buah, mengenai
Tim Garuda U-19, entah itu pelatih atau tim secara keseluruhan,
tergolong lebay alias berlebihan.
Acuannya
jelas, tim ini dipersiapkan untuk berprestasi di Piala AFC U-19, level
yang lebih tinggi dari keberhasilan mereka menjuarai ajang sekelas di
wilayah Asia Tenggara.
Namun,
tak seorang pun dari pengurus federasi dan BTN bisa menghambat derasnya
harapan masyarakat terhadap Evan Dimas dkk. Yang bisa mereka lakukan
adalah mengontrol dan menjaga tim.
Saya
punya sedikit pertanya¬an tersisa dari Piala AFF U-19: seandainya
Australia tidak mengundurkan diri dari kejuaraan yang digelar di Jawa
Timur itu, seperti apa sambutan masyarakat terhadap Tim Garuda Jaya?
Akan
lebih baik bila target ke Piala Dunia 2015 adalah impian para pemain,
bukan semata ambisi pengurus. Dengan begitu, segala latihan dan
persiapan yang diberikan tim pelatih akan dengan mudah diterima para
pemain.
Semoga pasukan Garuda Muda tetap dapat memfokus¬kan perh
Pernah mendengar nasihat menuju kesuksesan ini? Atau, bagaimana
dengan ini: Tetaplah fokus terhadap tujuan yang Anda tetapkan dan
lakukan hal itu setiap hari.
Banyak cara untuk mengatakan bahwa tanpa persiapan yang baik, target
yang ditetapkan atau tujuan yang diharapkan sulit tercapai. Lalu, untuk
apa membuang waktu selama persiapan bila ketika waktunya tiba untuk
unjuk kemampuan kita tak bisa melakukannya dengan baik?
Dalam sebuah acara televisi, saya pernah mendengar kesaksian dari seseorang yang sukses dalam mencapai impiannya.
Katanya begini, “Kunci kesuksesan saya adalah tetap fokus pada
pikiran dan kesadaran saya akan keinginan atau target yang saya
tetapkan.”
Catatan pertama saya, ia tahu apa yang diinginkannya.
Lalu, ia melanjutkan ucapannya, “Fokuslah pada apa yang kita
inginkan, bukan pada hal-hal yang membuat kita khawatir atau
menakutkan.”
Catatan kedua, ia menghindarkan dirinya dari ketakutan akan
kegagalan. Ia memusatkan perhatian pada target yang membuat hidupnya
bergairah setiap hari.
Sederhana? Ya, untuk dituliskan dan diucapkan. Tapi, untuk diwujudkan
atau dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari tak akan semulus ucapan
karena begitu banyak faktor pembelok perhatian.
Ancaman terhadap godaan untuk berbelok dari tujuan atau target yang
ditetapkan inilah yang saya tangkap dari bincang-bincang singkat dengan
Ketua Badan Tim Nasional, La Nyalla Mattalitti, di kantor PSSI beberapa
waktu lalu.
Tatap muka langsung dengan pria asal Sulawesi Selatan kelahiran 10
Mei 1959 itu adalah yang pertama saya lakukan sejak ia masuk ke dalam
lingkaran dalam federasi sepak bola di Tanah Air, baik sebagai Wakil
Ketua Umum PSSI atau Ketua BTN.
Ada beberapa hal buah pikirannya yang menarik perhatian saya. Selain
ucapannya untuk tetap ogah menerima bantuan pemerintah dalam menjalankan
PSSI, juga luapan emosinya terhadap situasi yang tercipta belakangan
ini di tim nasional U-19.
Ketika menemani Evan Dimas dkk. menjalani umrah dan melakukan uji
coba di Timur Tengah, La Nyalla Mattalittimengaku “meledak”. Tak hanya
kepada pemain, ia juga tak menutupi meluapkan kritikan terhadap pelatih.
“Target yang saya tetapkan untuk timnas U-19 adalah tampil di Piala
Dunia U-20 tahun depan. Tapi, saya melihat tim ini terlalu banyak
disanjung dan menjalani kegiatan di luar persiapan untuk itu,” katanya.
Dengan mimik muka tegas dan menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi,
ia menegaskan Evan Dimas dkk. belum mencapai apa-apa. Seluruh persiapan
yang dilakukan BTN untuk mereka adalah demi meraih gelar juara di
kompetisi Piala AFC U-19 2014 atau minimal mencapai empat besar yang
menyediakan tiket ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.
***
Saya sepakat dengan La Nyalla Mattalitti bahwa pemberitaan atau
sanjungan terhadap Indra Sjafri dan pasukannya saat ini bisa menjadi
pembelok fokus perhatian atau target yang diberikan kepada mereka.
Saya pun setuju bahwa kemunculan buku, bahkan berjumlah tiga buah,
mengenai Tim Garuda U-19, entah itu pelatih atau tim secara keseluruhan,
tergolong lebay alias berlebihan.
Acuannya jelas, tim ini dipersiapkan untuk berprestasi di Piala AFC
U-19, level yang lebih tinggi dari keberhasilan mereka menjuarai ajang
sekelas di wilayah Asia Tenggara.
Namun, tak seorang pun dari pengurus federasi dan BTN bisa menghambat
derasnya harapan masyarakat terhadap Evan Dimas dkk. Yang bisa mereka
lakukan adalah mengontrol dan menjaga tim.
Saya punya sedikit pertanya¬an tersisa dari Piala AFF U-19:
seandainya Australia tidak mengundurkan diri dari kejuaraan yang digelar
di Jawa Timur itu, seperti apa sambutan masyarakat terhadap Tim Garuda
Jaya?
Akan lebih baik bila target ke Piala Dunia 2015 adalah impian para
pemain, bukan semata ambisi pengurus. Dengan begitu, segala latihan dan
persiapan yang diberikan tim pelatih akan dengan mudah diterima para
pemain.
Semoga pasukan Garuda Muda tetap dapat memfokuskan perhatian mereka
untuk menorehkan prestasi, bukan dihantui kekhawatiran bila gagal
memenuhi target yang diminta BTN. Karena, di pundak merekalah harapan
dan masa depan sepak bola Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar