Minggu, 20 April 2014

Kabar Menyenangkan


Harian Bola - Akhir bulan lalu saya menulis di kolom ini artikel dengan niat menyemangati, “Ini Tahun Kita”. Isinya, harapan dan keyakinan bahwa di tahun ini olah raga Indonesia akan berprestasi. Hari-hari belakangan ini saya, dan pastinya kita semua, merasa senang sekali karena tanda-tanda ke arah itu mulai tampak.


Nomor satu harus saya kedepankan adalah timnas U-19. Nikmat sekali melihat penampilan tim itu, selalu terkesima kita dibuatnya. Dari kiper, empat bek, gelandang, hingga penyerang, semua bermain luar biasa.
Kalau meminjam bahasa Twitter, kalimat ini “kayak bukan tim Indonesia ya?” sudah jadi trending topic bila kita bicara timnas U-19. Memang gaya main seperti itu nyaris tidak pernah terlihat secara konsisten di semua tim nasional kita selama ini, dari senior hingga junior.
Dulu ada sindiran, “Ah, salah umpan melulu” atau “Sudah tahu pendek, masih saja ngasih bola lambung”, atau lagi “Paling mainnya cuma kuat 15 menit”. Semua itu menyebalkan. 
Indra Sjafri bisa menghilangkan ejekan-ejekan itu dan membuktikan bahwa sebelas, plus cadangan, pemain Indonesia mampu memainkan sepak bola secara benar.
Salah umpan, itu masa lalu. Bola lambung, bodoh sekali. 15 menit? Hahaha, tanyakan tim lawan bagaimana fisik pemain Indonesia yang masih terus menggoyang dan menggempur lawan di menit 90 plus injury time-nya. Tambahan, tim kita bisa menang telak di kandang lawan.
Apa komentar pelatih timnas U-19 Uni Emirat Arab, Khalifa Mubarak, setelah timnya dipermak 1-4 oleh Evan Dimas dkk. di rumah mereka? “Indonesia memainkan total football. Mereka amat berbakat dan bermain secara harmonis. Para pemain Indonesia saling mengerti satu sama lain,” ujarnya di situs resmi UEA FA. Satu pengakuan jujur. Bangga mendengarnya.
Setelah juga sebelumnya menggasak Oman di uji coba, plus mempermalukan juara bertahan Korsel di Gelora Bung Karno di babak kualifikasi, kini Indonesia pasti disegani dan rasanya tak ada yang mau satu grup dulu dengan kita.
Hari Rabu kemarin saya ngobrol dengan Ketua Badan Tim Nasional La Nyalla Mattalitti. Saya dipesan agar BOLA, dan media lain, jangan terlalu menyanjung timnas U-19. Bahkan kalau perlu mengkritiknya terus-menerus.
Baiklah, Pak, kritik pertama saya yang semua orang juga tahu, tolong jangan mudah kebobolan lagi dari bola mati. Lalu, tolong cari lawan yang bisa terus-menerus mengurung timnas, yang akhirnya bisa membuat kita kalah telak. Itu bagus buat melatih mental bagaimana menerima kekalahan.
***
Kasus kedua sungguh lebih membahagiakan karena lebih tidak terduga hasilnya. Kemenangan telak Simon Santoso atas Lee Chong Wei di final Singapura Terbuka bukan hanya membuat sang pemain nomor satu dunia itu terkejut sekaligus salut, tapi membuncahkan harapan kita menjelang Piala Thomas.
Keberhasilan ini pasti menaikkan moril Simon sebelum bertarung di kejuaraan beregu bulu tangkis paling punya sejarah buat kita itu. Dengan statusnya sebagai “pemain nomor sekian” Indonesia, Simon bisa menjadi kartu truf kemenangan kita.
Dari sisi peringkat, per 10 April menurut situs bwfbadminton.org di atas Simon masih ada Tommy Sugiarto (3), Sony Dwi Kuncoro (18), dan Dionysius Hayom Rumbaka (20). Simon sendiri ada di peringkat 52.
Kalau bicara positif, tak pelak kondisi ini bagus buat Indonesia. Tommy, Sony, dan Hayom pun pasti senang dengan apa yang baru dicapai oleh Simon. Artinya, komposisi pemain seperti apa pun yang diturunkan tim, diskenariokan tunggal putra dapat angka.
Bukan jumawa, dan memang tidak boleh sombong dulu, bahwa ganda putra kita pasti menghasilkan dua poin. Namun, sejak sekarang kita mesti memastikan bahwa ganda putra kita adalah pemilik kunci terkuat dua angka. 
Memang saat ini baru dua dari empat harapan saya yang bakal kelihatan bersinar, Timnas U-19 dan tim Piala Thomas, tapi sekali lagi, yang kita inginkan adalah menghilangkan kata “bakal” tadi menjadi sebuah hal yang pasti.
(Tulisan ini dimuat di Harian BOLA Kamis, 17 April 2014)
Nomor satu harus saya kedepankan adalah timnas U-19. Nikmat sekali melihat penampilan tim itu, selalu terkesima kita dibuatnya. Dari kiper, empat bek, gelandang, hingga penyerang, semua bermain luar biasa.
Kalau meminjam bahasa Twitter, kalimat ini “kayak bukan tim Indonesia ya?” sudah jadi triending topic bila kita bicara timnas U-19. Memang gaya main seperti itu nyaris tidak pernah terlihat secara konsisten di semua tim nasional kita selama ini, dari senior hingga junior.

Dulu ada sindiran, “Ah, salah umpan melulu” atau “Sudah tahu pendek, masih saja ngasih bola lambung”, atau lagi “Paling mainnya cuma kuat 15 menit”. Semua itu menyebalkan. 
Indra Sjafri bisa menghilangkan ejekan-ejekan itu dan membuktikan bahwa sebelas, plus cadangan, pemain Indonesia mampu memainkan sepak bola secara benar.

Salah umpan, itu masa lalu. Bola lambung, bodoh sekali. 15 menit? Hahaha, tanyakan tim lawan bagaimana fisik pemain Indonesia yang masih terus menggoyang dan menggempur lawan di menit 90 plus injury time-nya. Tambahan, tim kita bisa menang telak di kandang lawan.
Apa komentar pelatih timnas U-19 Uni Emirat Arab, Khalifa Mubarak, setelah timnya dipermak 1-4 oleh Evan Dimas dkk. di rumah mereka? “Indonesia memainkan total football. Mereka amat berbakat dan bermain secara harmonis. Para pemain Indonesia saling mengerti satu sama lain,” ujarnya di situs resmi UEA FA. Satu pengakuan jujur. Bangga mendengarnya.

Setelah juga sebelumnya menggasak Oman di uji coba, plus mempermalukan juara bertahan Korsel di Gelora Bung Karno di babak kualifikasi, kini Indonesia pasti disegani dan rasanya tak ada yang mau satu grup dulu dengan kita.

Hari Rabu kemarin saya ngobrol dengan Ketua Badan Tim Nasional La Nyalla Mattalitti. Saya dipesan agar BOLA, dan media lain, jangan terlalu menyanjung timnas U-19. Bahkan kalau perlu mengkritiknya terus-menerus.

Baiklah, Pak, kritik pertama saya yang semua orang juga tahu, tolong jangan mudah kebobolan lagi dari bola mati. Lalu, tolong cari lawan yang bisa terus-menerus mengurung timnas, yang akhirnya bisa membuat kita kalah telak. Itu bagus buat melatih mental bagaimana menerima kekalahan.

 Arief Kurniawan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar