Harian Bola - Akhir bulan lalu saya menulis di kolom ini artikel dengan niat menyemangati, “Ini Tahun Kita”. Isinya, harapan dan keyakinan bahwa di tahun ini olah raga Indonesia akan berprestasi. Hari-hari belakangan ini saya, dan pastinya kita semua, merasa senang sekali karena tanda-tanda ke arah itu mulai tampak.
Nomor
satu harus saya kedepankan adalah timnas U-19. Nikmat sekali melihat
penampilan tim itu, selalu terkesima kita dibuatnya. Dari kiper, empat
bek, gelandang, hingga penyerang, semua bermain luar biasa.
Kalau
meminjam bahasa Twitter, kalimat ini “kayak bukan tim Indonesia ya?”
sudah jadi trending topic bila kita bicara timnas U-19. Memang gaya main
seperti itu nyaris tidak pernah terlihat secara konsisten di semua tim
nasional kita selama ini, dari senior hingga junior.
Dulu
ada sindiran, “Ah, salah umpan melulu” atau “Sudah tahu pendek, masih
saja ngasih bola lambung”, atau lagi “Paling mainnya cuma kuat 15
menit”. Semua itu menyebalkan.
Indra
Sjafri bisa menghilangkan ejekan-ejekan itu dan membuktikan bahwa
sebelas, plus cadangan, pemain Indonesia mampu memainkan sepak bola
secara benar.
Salah
umpan, itu masa lalu. Bola lambung, bodoh sekali. 15 menit? Hahaha,
tanyakan tim lawan bagaimana fisik pemain Indonesia yang masih terus
menggoyang dan menggempur lawan di menit 90 plus injury time-nya.
Tambahan, tim kita bisa menang telak di kandang lawan.
Apa
komentar pelatih timnas U-19 Uni Emirat Arab, Khalifa Mubarak, setelah
timnya dipermak 1-4 oleh Evan Dimas dkk. di rumah mereka? “Indonesia
memainkan total football. Mereka amat berbakat dan bermain secara
harmonis. Para pemain Indonesia saling mengerti satu sama lain,” ujarnya
di situs resmi UEA FA. Satu pengakuan jujur. Bangga mendengarnya.
Setelah
juga sebelumnya menggasak Oman di uji coba, plus mempermalukan juara
bertahan Korsel di Gelora Bung Karno di babak kualifikasi, kini
Indonesia pasti disegani dan rasanya tak ada yang mau satu grup dulu
dengan kita.
Hari
Rabu kemarin saya ngobrol dengan Ketua Badan Tim Nasional La Nyalla
Mattalitti. Saya dipesan agar BOLA, dan media lain, jangan terlalu
menyanjung timnas U-19. Bahkan kalau perlu mengkritiknya terus-menerus.
Baiklah,
Pak, kritik pertama saya yang semua orang juga tahu, tolong jangan
mudah kebobolan lagi dari bola mati. Lalu, tolong cari lawan yang bisa
terus-menerus mengurung timnas, yang akhirnya bisa membuat kita kalah
telak. Itu bagus buat melatih mental bagaimana menerima kekalahan.
***
Kasus
kedua sungguh lebih membahagiakan karena lebih tidak terduga hasilnya.
Kemenangan telak Simon Santoso atas Lee Chong Wei di final Singapura
Terbuka bukan hanya membuat sang pemain nomor satu dunia itu terkejut
sekaligus salut, tapi membuncahkan harapan kita menjelang Piala Thomas.
Keberhasilan
ini pasti menaikkan moril Simon sebelum bertarung di kejuaraan beregu
bulu tangkis paling punya sejarah buat kita itu. Dengan statusnya
sebagai “pemain nomor sekian” Indonesia, Simon bisa menjadi kartu truf
kemenangan kita.
Dari
sisi peringkat, per 10 April menurut situs bwfbadminton.org di atas
Simon masih ada Tommy Sugiarto (3), Sony Dwi Kuncoro (18), dan Dionysius
Hayom Rumbaka (20). Simon sendiri ada di peringkat 52.
Kalau
bicara positif, tak pelak kondisi ini bagus buat Indonesia. Tommy,
Sony, dan Hayom pun pasti senang dengan apa yang baru dicapai oleh
Simon. Artinya, komposisi pemain seperti apa pun yang diturunkan tim,
diskenariokan tunggal putra dapat angka.
Bukan
jumawa, dan memang tidak boleh sombong dulu, bahwa ganda putra kita
pasti menghasilkan dua poin. Namun, sejak sekarang kita mesti memastikan
bahwa ganda putra kita adalah pemilik kunci terkuat dua angka.
Memang
saat ini baru dua dari empat harapan saya yang bakal kelihatan
bersinar, Timnas U-19 dan tim Piala Thomas, tapi sekali lagi, yang kita
inginkan adalah menghilangkan kata “bakal” tadi menjadi sebuah hal yang
pasti.
(Tulisan ini dimuat di Harian BOLA Kamis, 17 April 2014)
Nomor satu harus saya kedepankan adalah timnas U-19. Nikmat sekali
melihat penampilan tim itu, selalu terkesima kita dibuatnya. Dari kiper,
empat bek, gelandang, hingga penyerang, semua bermain luar biasa.
Kalau meminjam bahasa Twitter, kalimat ini “kayak bukan tim Indonesia ya?” sudah jadi triending topic bila
kita bicara timnas U-19. Memang gaya main seperti itu nyaris tidak
pernah terlihat secara konsisten di semua tim nasional kita selama ini,
dari senior hingga junior.
Dulu ada sindiran, “Ah, salah umpan melulu” atau “Sudah tahu
pendek, masih saja ngasih bola lambung”, atau lagi “Paling mainnya cuma
kuat 15 menit”. Semua itu menyebalkan.
Indra Sjafri bisa menghilangkan ejekan-ejekan itu dan membuktikan
bahwa sebelas, plus cadangan, pemain Indonesia mampu memainkan sepak
bola secara benar.
Salah umpan, itu masa lalu. Bola lambung, bodoh sekali. 15 menit?
Hahaha, tanyakan tim lawan bagaimana fisik pemain Indonesia yang masih
terus menggoyang dan menggempur lawan di menit 90 plus injury time-nya.
Tambahan, tim kita bisa menang telak di kandang lawan.
Apa komentar pelatih timnas U-19 Uni Emirat Arab, Khalifa Mubarak,
setelah timnya dipermak 1-4 oleh Evan Dimas dkk. di rumah mereka?
“Indonesia memainkan total football. Mereka amat berbakat dan bermain
secara harmonis. Para pemain Indonesia saling mengerti satu sama lain,”
ujarnya di situs resmi UEA FA. Satu pengakuan jujur. Bangga
mendengarnya.
Setelah juga sebelumnya menggasak Oman di uji coba, plus
mempermalukan juara bertahan Korsel di Gelora Bung Karno di babak
kualifikasi, kini Indonesia pasti disegani dan rasanya tak ada yang mau
satu grup dulu dengan kita.
Hari Rabu kemarin saya ngobrol dengan Ketua Badan Tim Nasional La
Nyalla Mattalitti. Saya dipesan agar BOLA, dan media lain, jangan
terlalu menyanjung timnas U-19. Bahkan kalau perlu mengkritiknya
terus-menerus.
Baiklah, Pak, kritik pertama saya yang semua orang juga tahu, tolong
jangan mudah kebobolan lagi dari bola mati. Lalu, tolong cari lawan yang
bisa terus-menerus mengurung timnas, yang akhirnya bisa membuat kita
kalah telak. Itu bagus buat melatih mental bagaimana menerima kekalahan.
Arief Kurniawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar