REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak sedikit dari kita yang bersikap
pesimistis ketika berbicara mengenai tim nasional. Termasuk ketika
timnas U-19 melakoni Piala AFF 2013 lalu. Bahkan, tak banyak orang yang
tahu bahwa anak-anak bangsa tersebut saat itu sedang berjuang
mengharumkan nama Indonesia.
Perhatian publik mulai tercurah ketika timnas U-19 akan melakukan
duel penentuan penuh gengsi melawan Malaysia di laga pamungkas Grup B.
Siapa yang kalah saat itu, tim tersebut yang akan tersingkir dari
turnamen.
Indra Sjafri yang sadar akan pentingnya laga itu, dengan lantang
menyebut bahwa Malaysia adalah tim yang biasa-biasa saja, tidak ada yang
spesial. Komentar Indra ini pun mendapat tanggapan beragam di jejaring
sosial.
Tak sedikit yang menganggapnya terlalu 'kepedean'. Maklum, Malaysia
memang kerap menjungkalkan Indonesia di berbagai ajang. Indra menjawab
semua itu dengan hasil positif. Indonesia memang gagal memetik
kemenangan, tapi hasil imbang 1-1 sudah cukup bagi Indonesia untuk
mendepak Malaysia.
Publik pun pasti masih ingat dengan pernyataan ini, "Sampaikan kepada
Korea Selatan, kita akan mengalahkan mereka nanti. Semua bisa
dikalahkan, kecuali Tuhan. Penggalan kalimat terakhir itu yang juga
akhirnya terpatri di hati para pemain timnas U-19 sebagai pemantik
semangat.
Pernyataan yang sempat menghebohkan ini keluar dari mulut Indra
sebelum timnas U-19 berhadapan dengan Korea Selatan pada Grup G
Kualifikasi Piala ASia U-19 2014 di Jakarta, Oktober tahun lalu. Beragam
reaksi muncul saat itu, banyak yang memuji, ada yang mengerutkan alis,
juga tak sedikit yang mencibir.
Tapi, saat Indonesia berjaya membungkam Korsel dengan skor ketat 3-2,
mereka yang sebelumnya menganggap Indra terlalu pongah mulai berubah
pikiran bahwa Indra sosok yang optimistis.
"Saya tidak mengelola tim nasional secara tradisional. Semua elemen
saya libatkan. Saya bicara itu berdasarkan data statistik. Saat itu,
Indonesia memang lebih baik dari Korea," kata Indra kepada Republika belum lama ini.
Bukan itu saja alasannya. Indra rupanya gusar dengan sikap inferior
mayoritas masyarakat. Menurut Indra, orang Indonesia terlalu memandang
tinggi negara dan bangsa lain.
"Kalau kita merasa orang lain selalu hebat, lantas kapan kita
hebatnya? Sampai kapan pun kita tidak akan maju. Kita harus cintai
negara ini, karena kita lahir, besar, dan hidup di sini," ucap mantan
karyawan Kantor Pos tersebut.
Prinsip Indra itu yang akhirnya membuat Republika memilihnya
sebagai Tokoh Perubahan Republika 2013. Indra mampu menjadi inspirasi
perubahan di sepak bola. Indra mengajak masyarakat Indonesia untuk sadar
bahwa kita adalah bangsa besar yang seharusnya tidak perlu pesimistis
untuk berprestasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar